Yuk kita berdoa, Nak.

“Assalamualaikuuuum, selamat paagii sayaaang. Wah pinternya adek Yusuf sudah bangun ya.”

“Pinter sekali bangun tidur nggak nangis, top deh anak mama.”

“Yuk, Nak kita baca doa bangun tidur dulu yaa.. alhamdulillahirobbil ‘aalamiin.. alhamdulillahilladzi atamana wasaqona waj ‘alana minal muslimiin..”

Begitulah rutinitas pagi hari yang kulakukan untuk menyambut si buah hati yang sudah bangun dari tidur lelapnya. Pagi-pagi setelah sholat subuh, anakku Yusuf namanya, sudah menendang-nendangkan kakinya membuka selimut tipis yang menutupi badannya sembari asyik mengenyot (menghisap) jari tangannya yang mungil. Sebelum dia merengek mencari keberadaanku, segera kuhampiri dia sambil menyapa dan mengajaknya berdoa bersama, berucap syukur pada Yang Kuasa.

Kupandangi wajahnya lekat-lekat, kupegang kedua tangan kecilnya dan kutopangkan ke dadanya sambil melafalkan doa bangun tidur dengan irama yang pelan namun riang. Seakan dia memahami apa yang kulakukan, dengan matanya yang berbinar-binar ia menatapku, tak lupa sambil menyungginggan senyum manis berlesung pipit yang, aahhh membuatku selalu jatuh hati padanya.

Rutinitas membaca doa bangun tidur tak hanya kuajarkan di pagi hari, namun juga di setiap kali ia bangun dari tidurnya. Hmm kira-kira jumlahnya berkali-kali dilantunkan ya, karena anak bayi gampang dan sering sekali tidur lagi. Pasangan dari doa ini yang pasti adalah doa sebelum tidur. Doa sebelum tidur juga telah biasa ku bacakan padanya sebelum ia tidur.

“Bismillahirrahmaanirrahiim.. Bismikallahumma ahya wabismika ammut,”

“Laa haula walaa kuwwa illa billaah,”

Saat berusaha menidurkannya, kukenalkan ia dengan beberapa surat pendek, bacaan ayat kursi, dan kuajak berdzikir bersama sembari menimangnya hingga akhirnya ia terlelap menjemput mimpi indahnya.

Saat Yusuf mulai merengek dan terburu untuk minum ASI, kuajak ia bersabar sejenak dengan membaca basmallah dan doa makan terlebih dahulu, serta mengakhirinya dengan hamdallah dan doa seusai makan.

“Wah, adek haus yaa.. udah laper ya? Sabar dulu ya, Nak. Ayo sambil berdoa bersama.”

“Bismillahirrahmanirrahiim. Allahumma bariklana fiima razaktana wakin adzaabannaar.”

Dan haaap, dengan lahap ia mulai asyik menikmati makanan yang sekaligus minuman favoritnya, yang pasti ASI namanya 😄.

Saat mau mandi, melepas dan mengenakan pakaian, dan kegiatan lain yang ia lakukan sebisa mungkin kuajarkan untuk senantiasa membaca doa. Minimal mengawalinya dengan basmallah dan mengakhirinya dengan hamdallah.

Doa adalah salah satu bentuk komunikasi seorang hamba pada Tuhannya. Dengan membiasakan si kecil berdoa di setiap langkahnya, aku ingin mengajarkannya untuk selalu ingat pada sang Pencipta. Mengajak bayi berdoa bersama dengan diiringi irama yang riang gembira, belaian, dan tatapan hangat akan membuatnya antusias. Tak jarang Yusuf yang kini usianya 3,5 bulan, menunjukkan ekspresi senang, seakan-akan paham apa yang sedang kubicarakan. Matanya yang menggemaskan terus memandang dan mulut mungilnya ikut berkomat-kamit mengeluarkan suara tidak jelas 😂. Aku yakin, dan kita harus yakin mom, apa yang dengan hati kita komunikasikan pada anak kita, walaupun ia masih bayi sekalipun, ia akan memahaminya, insyaaAllah.

Semoga bisa istiqomah membersamaimu dengan lantunan doa ya, Nak. ❤

Leave a Reply