Stop Kekerasan Seksual pada Anak!

Oleh Kelompok 10

Kekerasan seksual semakin marak terjadi kususnya menimpa kalangan anak-anak. Membangkitkan fitrah seksual sejak dini diyakini mampu menjadi pertahanan pertama agar anak-anak terhindar dari beragam permasalahan seksual diantaranya kekerasan seksual. Fitrah seksualitas yang tumbuh dengan paripurna akan memahamkan anak-anak pada identitas dirinya. Bagaimana seorang laki-laki bertindak, bersikap,berfikir dan berpakaian selayaknya laki-laki. Sebaliknya bagaimana seorang perempuan bertindak, bersikap, berfikir dan berpakaian selayaknya perempuan. Anak-anak yang faham akan identitas dirinya dengan jelas diharapkan bisa terhindar dari kekerasan seksual. Namun demikian, fisik anak-anak yang lemah dan kerap kali masih banyak bergantung pada orang dewasa untuk melakukan aktifitasnya seringkali dijadikan kesempatan sehingga anak-anak kerapkali menjadi korban kekerasan seksual.

Apa itu Kekerasan Seksual pada Anak?
Kekerasan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan anak di mana orang dewasa atau remaja yang lebih tua menggunakan anak untuk rangsangan seksual. Bentuk pelecehan seksual anak termasuk meminta atau menekan seorang anak untuk melakukan aktivitas seksual (terlepas dari hasilnya), memberikan paparan yang tidak senonoh dari alat kelamin untuk anak, menampilkan pornografi untuk anak, melakukan hubungan seksual terhadap anak-anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak (kecuali dalam konteks non-seksual tertentu seperti pemeriksaan medis), melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik (kecuali dalam konteks non-seksual seperti pemeriksaan medis), atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak.

Bentuk-bentuk Kekerasan Seksual pada Anak?
Kekerasan seksual tidak hanya terjadi dalam bentuk perkosaan saja, inilah mungkin yang menyebabkan banyak orangtua yang tidak menyadari tanda-tanda yang ditunjukkan anak ketika mengalami kekerasan seksual. Kekerasan seksual dapat berupa kekerasan fisik maupun non fisik.

Kekerasan seksual pada anak secara fisik berupa :
1. Menyentuh area intim atau kemaluan anak untuk memenuhi gairahnya
2. Membuat anak menyentuh bagian privat atau kemaluan pelaku
3. Membuat anak ikut bermain dalam permainan seksualnya
4. Memasukkan sesuatu ke dalam kemaluan atau anus anak

Kekerasan seksual pada anak non fisik dapat berupa :
1. Menunjukkan hal-hal yang bersifat pornografi pada anak, entah itu video, foto, atau gambar
2. Menyuruh anak berpose tidak wajar
3. Menyuruh anak untuk menonton berbagai hal yang berhubungan dengan seks
4. Mengintip atau menontoni anak yang sedang mandi atau sedang berada di dalam toilet

Tanda-Tanda Anak Mengalami Kekeraan Seksual
Orang tua harus peka apabila anak-anak mulai menunjukkan perilaku yang tidak wajar atau berubah darastis dari biasanya. Ada beberapa tanda anak mengalami kekerasan seksual antaranya :
Tanda-tanda Non Fisik
1. Sering bermimpi buruk hingga mengalami masalah tidur
2. Perilaku berubah, misalnya menggunakan mainan atau benda sebagai rangsangan seksual
3. Menjadi sangat tertutup dan pendiam
4. Dalam keadaan marah, emosinya akan sangat meledak dan tak terkendali
Menyebutkan kata-kata atau istilah yang tidak pantas, misalnya menyebutkan bagian-bagian tubuh genital dan tidak diketahui dari mana ia mengetahuinya.
5. Melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, seperti melukai dirinya dengan benda tajam
6. Menceritakan teman barunya yang berusia lebih tua dan menyebutkan kalau ia mendapatkan banyak hadiah dari orang tersebut tanpa alasan yang jelas
7. Tiba-tiba merasa ketakutan jika diajak ke suatu tempat tertentu atau ketika bertemu dengan orang tertentu
8. Anak mungkin menunjukkan tanda-tanda pemberontakan atau perilaku menantang
9. Perubahan kebiasaan makan.
10. Anak mungkin mencoba untuk bunuh diri.

Tanda-Tanda Fisik
1. Anak merasa sakit, terjadi perdarahan, atau keluar cairan dari kemaluan, anus, atau mulutnya
2. Merasa sakit yang berulang-ulang, setiap ia buang air kecil
3. Menjadi sering mengompol kembali
4. Nyeri atau kesulitan berjalan atau duduk
5. Terdapat darah di pakaian dalamnya
6. Memar di tempat-tempat yang tidak biasa, tanpa alasan jelas

Dampak Kekerasan Seksual
Banyak dampak berbahaya yang ditimbulkan dari pelecehan seksual pada anak, yaitu dapat berpengaruh pada psikologis, fisik, dan sosialnya. Inilah beberapa di antaranya:
1. Anak menjadi pribadi yang tertutup dan tidak percaya diri.
2. Timbul perasaan bersalah, stres, bahkan depresi.
3. Timbul ketakutan atau fobia tertentu.
4. Mengidap gangguan traumatik pasca kejadian (PTSD).
5. Di kemudian hari, anak bisa menjadi lebih agresif, berpotensi melakukan tindan kriminal bahkan menjadi calon pelaku kekerasan.
6. Susah makan dan tidur, mendapat mimpi buruk.
7. Terjangkit penyakit menular seksual.
8. Disfungsi seksual.
9. Tidak bersosialisasi dengan lingkungan luar.
10. Mudah merasa takut dan cemas berlebihan.
11. Prestasi akademik menjadi rendah.
12. Adanya gangguan psikis, dan bisa menghambat tumbuh-kembang anak.

Dampak yang timbul pada anak tergantung pada frekuensi dan durasi kekerasan yang telah mereka terima. Semakin sering kekerasan yang diterima, maka trauma yang timbul juga akan semakin besar dan membutuhkan pemulihan jangka panjang. Luka fisik yang ditimbulkan dapat sembuh dalam waktu yang tidak lama, namun luka psikis akan terekam oleh anak dalam waktu yang sangat lama. Perkembangan fisik dan mental anak juga akan ikut terluka.

Cara Menghindari Kekerasan Seksual Pada Anak
1. Ajarkan anak tentang anatomi tubuhnya
Pengenalan anggota tubuh harus dilakukan sedini mungkin, termasuk dengan penamaan yang tepat untuk genitalia mereka. Banyak orangtua yang memilih ‘menghaluskan’ istilah anatomi tubuh seperti “payudara”, “penis”, atau “vagina” dengan kata-kata yang menurut mereka lebih bisa diterima. Cara ini salah.
Mengajarkan anak nama-nama yang benar untuk setiap bagian tubuh, mereka akan lebih akurat saat menceritakan apa yang terjadi pada mereka jika seseorang melecehkan mereka. Dengan menggunakan istilah anatomi yang sesuai, semua orang yang terlibat akan memahami persis apa yang anak-anak maksud guna meminimalisir kemungkinan salah tafsir. Misalnya, akan jauh lebih jelas jika seorang anak bisa melaporkan pelecehan yang terjadi dengan, “orang itu menyentuh vaginaku dengan penisnya” dibanding dengan jika ia mengatakan “orang itu pegang burungku.”

2. Ajarkan anak mengenai batasan
Prinsip yang paling utama yang harus diajarkan sejak dini adalah tubuh adalah milik pribadi, bahwa setiap manusia memiliki hak untuk menentukan apa yang bisa dan akan mereka lakukan terhadap tubuhnya masing-masing, siapa yang boleh menyentuhnya, dan bagaimana orang lain menyentuh tubuh mereka. Hak setiap anak harus dijamin dan diperlakukan sama, layaknya orang dewasa.
Ajarkan pula bahwa ada area-area tertentu yang tidak boleh dilihat atau disentuh sama sekali oleh orang lain, dengan catatan, jika kondisi tubuh anak mengharuskan untuk diperiksa oleh tenaga medis, jelaskan bahwa hal tersebut boleh-boleh saja karena pemeriksaan ini berkaitan dengan kesehatannya, dan temani anak selama pemeriksaan berlangsung.

Ajarkan anak untuk menghormati tubuhnya dengan mengajarkan mereka untuk menghormati tubuh orang lain. Ajarkan anak-anak sejak dini untuk tidak melakukan apapun terhadap orang lain jika orang tersebut tidak menginginkannya. Contohnya, jika ia menggelitik orang tua, atau saudaranya, terus menerus. Orang tua bisa dengan lugas katakan, “Aku tidak mau dikelitikin. Tolong hentikan, ya.” dan pastikan anak-anak menghormati keputusan orang tua. Mengajarkan dengan contoh akan lebih mudah bagi anak untuk mengerti. Hormati pula keinginan mereka, dan pastikan mereka mengetahui bahwa tidak siapapun, termasuk orang tuannya, memiliki hak untuk menyentuh mereka tanpa seizin mereka. Tanyakan pada anak sebelum menyentuh mereka, seperti, “Mau mama cium, nggak?” dan jangan berasumsi segala hal tidak apa-apa untuk dilakukan. Minta izin mereka untuk berikan ciuman, jangan langsung lakukan hal tersebut. Jangan sembarangan meminta mereka untuk memberikan ciuman atau pelukan kepada orang lain jika mereka tidak mau. Ajarkan mereka untuk bisa menolak dengan sopan.

Mana sentuhan yang baik dan yang tidak baik?
Sentuhan yang baik adalah sentuhan yang bisa memberikan kita kenyamanan dan merasa dipedulikan. Jelaskan pula pada anak bahwa terkadang, sentuhan yang baik bisa saja terasa sakit, misalnya, saat membersihkan luka. Memang sakit, tapi akan membuat ia jadi lebih baik.

Sedangkan sentuhan yang tidak baik adalah sentuhan yang menyakitkan, baik secara fisik maupun emosional. Contohnya: saat seseorang memukul, mencubit, atau menendangnya. Satu jenis sentuhan lainnya adalah sentuhan yang tidak diinginkan, yang biasanya adalah sentuhan yang baik, tapi tidak diinginkan untuk saat ini. Misalnya, diayunkan di ayunan rasanya sangat menyenangkan, tapi jika dilakukan setelah makan siang, mungkin anak Anda akan merasa pusing dan mual, makanya mereka cenderung tidak menginginkannya.

Sentuhan yang termasuk pelecehan seksual sangat jelas, tidak akan membingungkan orang lain bahkan jika menggunakan istilah yang tidak lazim digunakan. Sentuhan pelecehan seksual adalah jenis-jenis sentuhan yang membuat anak-anak takut, cemas, atau gelisah di bagian-bagian tubuh privat (yang biasanya tertutup pakaian sehari-hari, termasuk baju renang). Jelaskan kepada anak bahwa sentuhan ini mungkin seperti “baik”, tapi terasa tidak nyaman. Jelaskan pada anak bahwa jika seseorang menyentuh mereka dan kemudian meminta mereka untuk menjaga rahasia tentang sentuhan tersebut, maka sentuhan tersebut adalah pelecehan seksual. Terangkan dengan jelas bahwa pelecehan seksual juga bisa terjadi jika mereka disentuh saat mereka menggunakan pakaian lengkap, contohnya seseorang meraba celana atau rok mereka.
Saat Anda menyentuh anak Anda, tanyakan mereka tentang arti sentuhan tersebut untuknya. Tanyakan pertanyaan seperti, “Sekarang, boleh nggak aku memegang tanganmu?” atau, “Kalo sekarang orang lain (kakak/om/tante) pegang perutmu, boleh nggak?” Coba untuk minta anak menjelaskan alasan mereka mengenai boleh atau tidaknya sentuhan tersebut.

Ajarkan anak berkata tidak
Adalah hal yang sangat umum bagi anak untuk mendengar perintah seperti, “Turuti kata ayahmu!” atau, “Jangan bandel, kan ibu sudah bilang jangan lakukan itu!”. Namun, di usia sedini itu akan sangat sulit bagi anak-anak untuk bisa membedakan mana perintah yang harus mereka turuti dan perintah yang tidak harus mereka jalankan.
Ajarkan anak bahwa mereka memiliki hak untuk menolak dan berkata tidak. Mayoritas kasus pelecehan anak dilaporkan berdasarkan paksaan dan bukan kekerasan fisik. Mengajarkan anak untuk bisa berkata “tidak!” dengan jelas dan tegas dapat memberikan perbedaan yang signifikan di banyak situasi. Memang ada beberapa batasan jelas di mana anak tidak bisa berkata tidak, dan disinilah kebingungan orangtua bisa terjadi. Saat berdiskusi dengan anak, perjelas bahwa mereka bisa bilang tidak kepada siapapun yang ingin mencium mulut, menyentuh vagina, penis, dada, atau bokong mereka, atau bagian-bagian tubuh lainnya yang biasanya tertutupi pakaian. Perjelas pula bahwa mereka punya hak untuk menolak dengan keras jika orang tersebut mengatakan bahwa sentuhan ini aman dan tidak akan membuat mereka dihukum. Ajari anak untuk mempercayai insting mereka dan jika sesuatu terasa aneh, katakan tidak.

Selalu dampingi anak di kehidupannya
Sisihkan sebagian waktu Anda untuk bersama anak di mana mereka bisa mendapatkan perhatian penuh dari Anda. Pastikan kepada mereka bahwa mereka bisa curhat kapan saja mengenai segala hal yang terjadi di keseharian mereka, atau jika mereka memiliki pertanyaan tertentu, atau jika mereka merasa seseorang membuat mereka merasa tidak nyaman. Pastikan pula bahwa mereka tidak akan mendapat masalah jika menceritakan hal-hal tersebut. Banyak pelaku pelecehan yang menggunakan trik ancaman atau suap agar korbannya menjaga rahasia tentang kekerasan yang mereka alami. Dibandingkan dengan menggunakan pertanyaan tertutup, seperti, “Sekolah hari ini seru?”, berikan pertanyaan lanjutan yang memberikan anak kesempatan untuk mengelaborasi ceritanya, seperti, “Ada lagi yang ingin kamu ceritakan ke mama?”
Selalu ingatkan anak bahwa tidak apa-apa untuk berbicara dengan Anda, terlepas dari apapun topik pembicaraannya. Dan ingat, peran Anda sebagai orangtua adalah untuk selalu tepati janji dan jangan berikan hukuman saat mereka bicara jujur dengan Anda.

Ketika sudah mengetahui bahwa anak telah menjadi korban pelecehan seksual, maka orang tua harus bisa mengontrol diri supaya anak tidak semakin terpuruk. Berikut beberapa cara menyikapi pelecehan seksual pada anak:

  1. Tunjukkan reaksi rasional. Orangtua mana yang tidak syok ketika tahu anaknya menjadi korban? Apalagi ketika tahu pelaku adalah keluarga dekat. Perasaan bersalah karena tidak dapat melindungi yang bercampur amarah kadang menyebabkan orangtua histeris dan emosional, yang ditunjukkan sesaat setelah anak selesai bercerita. Hal ini menyebabkan anak tambah merasa bersalah karena menceritakan peristiwa tersebut. Tetap tenang itu penting.
  2. Kembalikan rasa aman pada anak. Memulihkan keamanan merupakan hal yang sangat penting. Kekerasan seksual pada anak dapat membuatnya kehilangan kontrol, sehingga orangtua harus memberikan perlindungan kepada anak. Anda juga dapat membantu anak merasa aman dengan menunjukkan kesediaan Anda melindungi privasinya.
  3. Tekankan pada anak, bahwa kejadian itu bukanlah kesalahannya, melainkan kesalahan pelaku. Hal ini penting mengingat banyak korban memiliki kepercayaan bahwa kejahatan seksual yang terjadi adalah kesalahannya. Tunjukkan pada anak bahwa Anda menghargai kepercayaan dan keberaniannya untuk bercerita pada Anda
  4. Berikan dukungan penuh, secara emosional dan psikologis. Anak membutuhkan dukungan, kenyamanan, dan cinta kasih Anda lebih dari sebelumnya. Anak dapat menghadapi kejadian itu dengan lebih baik ketika ayah-bunda dan lingkungan di sekitarnya peduli dan menerima keadaan dirinya.
  5. Segera konsultasikan kondisi anak ke pihak yang berkompeten untuk membantunya memulihkan trauma psikologis yang dialaminya, sehingga dapat meminimalisasi dampak jangka panjang.
  6. Segera laporkan kepihak yang berwajib

Daftar Pustaka
https://www.guesehat.com/dampak-yang-terjadi-pada-anak-korban-pelecehan-seksual

Jika Anak Menunjukkan Tanda-tanda Pelecehan Seksual

Hasil Diskusi Tanya-Jawab:
1. Bagaimana ya cara yg tepat memberitahu orang yang lebih tua dari saya. Masalah yang ada adalah si anaknya tidak dibiasakan memakai celana panjang saat memakai rok, karena saya sungkan saya jauh lebih muda untuk mengingatkan maka saya sudah membuat tulisan tentang pentingnya memakai celana panjang meski sudah memakai rok panjang,karena saya risih liat anak tersebut sering mengangkat roknya hingga terlihat celana dalamnya. Setelah saya share tulisan tersebut alhamdulilah yg dituju merespon dengan melike tulisan saya, tapi sedihnya anaknya tetep aja gak dipakaikan celana 🙈😭

Jawaban: Apakah dekat dengan beliau mbak @⁨Bunda Agie MIIP⁩?
Kalo dekat mungkin bisa diberi hadiah celana untuk si anak 🤭.Memberi Saran orang lebih tua memang gak bisa serta merta. Saran saya dekati si anak jelaskan perlahan menutup auratnya dgn celana. Biasanya anak-anak lebih Mudah diarahkan

2. Pernyataan seputar tindak pelecehan seksual
Oia saya pernah membaca ttg museum pakaian korban pemerkosaan, dmn pakaian korban kebanyakan tdk Ada yg memakai pakaian yg minim atau yg memperlihatkan bagian tubuh yg sensitif Ada Salah satu pernyataan, pemerkosaan tdk melihat jenis pakaian apa yg dipakai oleh korban Terkait pernyataan tsb, bagaimana tanggapan kita sebaiknya?[10/1, 21:45] ‪+62 813-3414-5994‬: Saya baru tahu juga ada museum ini Mbak 🤭

Jawaban: Pemerkosaan memang terjadi tidak hanya karena bagian tubuh yang terlihat ataupun pakaian. Bisa juga karena psikis pelaku. Pelaku yang memang sudah memiliki orientasi seksual yang berbeda dan menyimpang juga menjadi pemicu.
Namun demikian berpakain sopan akan meminimalisir pemeekosaan
Tambahan: Kalau pakaian bukan lagi jadi pelindung , jadi ingat pesan polwan (lupa namanya) saat saya mengikuti seminar, (1) Kadang memang ada kesempatan. Hindari tempat sepi, (2) Hindari berjalan sendiri di mlm hari. (3) Bekali diri dg keahlian beladiri

Rangkuman diskusi:
? Bagaimana dengan murid mba rifia yg notabene lebih banyak di sekolah?
✓ karena sistemnya pengasuhan, hanya ada ustadzah, masih butuh usaha lebih untuk memperkenalkan perbedaan laki laki. Jelaskan sesuai nama dan fungsinya. Hindari penggunaan istilah lain yang membingungkan.
? Bagaimana dengan anak yg suka penasaran memegang kelamin teman?
✓ tetap tenang dan dampingi. Beritau fungsinya. Dan jelaskan itu adalah aurat yg hanya boleh dipegang oleh mereka sendiri.
? Apa 3,5 tahun sudah bisa dijelaskan perbedaan laki dan permpuan? Misal saat melihat adiknya dimandikan.
✓ lebih baik dijelaskan diawal, sebelum cukup besar dan sudah harus tau malu. Pr selanjutnya adalah menjelaskan tentang haid.
? Bagaimana bila ada lingkungan yg tidak memakaikan celana pada anak perempuannya yg menggunakan rok? Sehingga saat tersingkap terlihat celana dalamnya. Sudah mencoba membuat tulisan di fb, beliau sudah membaca tp belum ada perubahan.
✓ bisa diingatkan langsung ke anaknya. Karena anak lebih mudah untuk diingatkan. Bisa juga langsung memberikan hadiah berupa celana. Berikan contoh positif penggunaan celana. Tentu bincang bincang dengan orang tuanya tetap perlu diusahakan.
? Pemerkosaan tidak melihat pakaian korban. Bagaimana tanggapannya?
✓ faktor pemicu kejadian juga karena psikis pelaku. Pelaku yg memang memiliki orientasi seksual berbeda bisa menjadi pemicu. Namun berpakaian sopan bisa meminimalisir
✓Kalau pakaian bukan lagi jd pelindung, kadang terjadi memang karena ada kesempatan. Hindari tempat sepi dan berjalan sendirian. Bekali diri dengan kemampuan bela diri.
✓ karena sebagian besar pelaku adalah korban kekerasan seksual itu sendiri.

Leave a Reply