Pertimbangkan Keamanan dan Keselamatan Anak saat Mengajak Beribadah

Baru saja kemarin aku menuliskan tentang mencoba membiasakan dan mengajak anak pergi beribadah ke mushola, malam ini aku mendapat pelajaran dan hikmah lain dari Allah. Seperti biasanya, saat magrib suami ke mushola, Yusuf ikut serta. Saat akan terawih, ia masih bimbang ikut dan memintaku yang sedang tak solat ini ikut berangkat dengannya. Akhirnya aku pun harus mengantarkannya ke mushola saat jamaah telah selesai shalat Isya tadi. Kali ini dia tak langsung mau naik ke mushola, ia malah lari-lari di jalanan dekat mushola. Biasanya ia ikut shalat dan hanya bermain di dalam mushola, namun kali ini ia malah tidak mau masuk dan berlarian di jalanan, bersama dua anak kecil yang hampir sebayanya, yang malah membuatnya semakin enggan masuk dan asyik berlarian di luar.

Lokasi mushola yang berada tepat di persimpangan jalan masuk perumahan membuatku was-was, khawatir sewaktu-waktu ada mobil/motor yang melaju dengan kencang. Benar saja, tak lama kemudian ada sebuah mobil dari arah depan. Aku bersyukur laju mobil tidak kencang, karena mungkin pengemudi yang merupakan salah satu warga paham jika banyak anak-anak di kompleks perumahan, terutama di sekitar mushola di jam shalat tarawih seperti ini. Hal yang membuatku kelimpungan adalah, 3 anak (termasuk anakku) yang tiba-tiba berpencar ke tiga arah berbeda. Astaghfirullah, aku langsung panik dan otomatis bingung mau mengamankan yang mana dulu. Dua anak sudah kugiring masuk ke mushola, tinggal Yusuf yang menepi agak jauh. Untungnya dia sudah paham dan terbiasa langsung menepi di saat ada kendaraan yang akan lewat, namun tentu saja sebagai orangtua aku tetap khawatir, kalau-kalau dia tiba-tiba malah berlari ke arah yang salah karena panik. Saat itu ia menepi di depan pagar rumah si pemilik mobil, karena mobil menuju dekat tempat ia berdiam diri, ia pun berteriak, walau ada aku yang sudah siap mengamankannya.

Kejadian ini membuatku agak takut dan instropeksi, kalau di lain waktu tidak ada aku, dia panik dan malah berlari menghampiri arah mobil bagaimana? Jika pemilik mobil tidak sadar ada anak kecil yang melintas bagaimana?! Ahh pikiranku jadi macam-macam. Aku pun langsung membawanya duduk di pinggir mushola, kulihat dia masih agak terkejut dengan peristiwa tadi. Kubelai punggunya dengan maksud menenangkang, sambi kuberi pemahaman padanya bahwa berlari-lari di jalanan seperti tadi berbahaya, tidak boleh, berbahaya ada mobil, ada motor. Sebaiknya duduk saja di dalam kalau mau ikut pergi ke mushola. Kuulangi berkali-kali kalimat yang sama. Entah paham atau tidak atas perkataanku, saat itu ia cukup lama hanya duduk diam saja di sampingku, sambil sesekali mengoceh menanggapi dengan kata yang tak kumengerti. Ia tidak berani lagi turun dan berlarian ke jalan. Selang beberapa lama, ia baru beranjak dari duduknya, mulai ikut bermain kembali bersama temannya, namun kali ini hanya di dalam dan sekitar teras mushola, tak lagi turun ke jalanan.

Peristiwa malam ini membuatku berpikir dan membuat pertimbangan kembali, apa sebaiknya dia di rumah saja. Kadang aku galau, bimbang,karena dia terbiasa kuajak ke mushola dari kecil, ia seringkali minta berangkat saat mendengar suara adzan, tapi karena dia makin besar dan lebih banyak ingin mainnya, terutama jika bertemu teman sebayanya untuk berlarian di jalanan sekitar mushola, itu yang membuatku khawatir kini. Aku jadi berpikir untuk sesering mungkin sounding ke dia tentang adab ke mushola, untuk ikut sholat atau bermain di dalam mushola saja. Walau kutahu ia masih sangat kecil, aku akan mencobanya. Jika ikhtiarku itu memang belum berhasil, mungkin sementara aku akan mengajaknya beribadah di rumah dulu saja, demi kemanan dan keselamatan bersama. Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan kemudahan. Aamiin.

#30HariMemetikHikmah #HikmahHariKeempat #Ramadahan2019

Leave a Reply