Menyusul Suami, Memilih untuk Mandiri

images-18285468840.jpg

Sumber gambar: https://www.123rf.com/photo_9599454_parent-s-and-baby-s-hands.html

Alhamdulillah sudah hampir 3 minggu aku bersama suami dan anakku tinggal di kota Probolinggo. Aku yang semenjak hamil dan melahirkan sempat ikut mertua tinggal di Malang, akhirnya menyusul suami untuk pindah ke kota Probolinggo. Keputusan yang cukup besar kami buat, mengingat saat suami dipindahtugaskan ke kota ini, kami sedang memiliki bayi yang saat itu baru berusia 1 bulan. Akibat terkendala waktu dan jarak, intensitas suami untuk pulang ke Malang menjadi berkurang, hanya seminggu sekali. Berbeda dengan sebelumnya saat ia berdinas di Surabaya, ia masih dapat menyempatkan 2 kali waktu dalam satu minggu untuk pulang ke Malang.

Selain kendala tersebut, keinginan untuk dapat tinggal serumah dan tidak berjauhan lagi semakin besar setelah kami dikaruniai anak. Rasanya ada yang kurang bila tidak bersama-sama menjalani hari bertiga; aku, suami, dan anak kami. Setelah berpikir masak-masak, memantapkan keyakinan, dan memberikan pengertian kepada kedua orangtua dan mertua, akhirnya kami memutuskan untuk boyongan ke kota Probolinggo.

Tidak gampang awalnya untuk mengambil keputusan besar ini, karena kami tak lagi hanya berdua, ada si kecil yang juga menjadi pertimbangan. Kami harus memikirkan bagaimana kami nantinya tinggal di kota baru sendiri tanpa bantuan mertua dan orangtua. Memikirkan suhu dan cuaca yang berbeda (lebih panas), suasana lingkungan, keputusan mengontrakkan rumah kami di dekat rumah mertua, hingga berpikir betah tidaknya nanti si kecil disana.

Mertua dan orangtua yang sebelumnya banyak membantu mengurusi bayi kami, sempat khawatir bila aku pindah menyusul suami ke Probolinggo. Kekhawatiran bila nanti si kecil rewel, suami yang tiba-tiba harus lembur, tidak adanya saudara disini, lingkungan yang asing, aku yang nanti bisa kerepotan, dan ketakutan-ketakutan lainnya yang bisa menghambat keputusan hijrah kami.

Kekhawatiran mereka sedikit banyak ternyata sempat menggoyahkan keputusan kami. Kami jadi ketularan khawatir, memikirkan bisa tidaknya kami survive di tempat baru itu nanti. Aku sempat bimbang, “Bisa nggak ya aku ngurus rumah dan anak sendiri disana. Anak pertama, pengalaman pertama,” begitu gumamku. “Ahh insyaaAllah bisa. Harus bisa dan pasti bisa! Kalau aku tinggal dengan suami, aku tak hanya bisa total menjadi ibu, tapi juga istri bagi suamiku,” tekad batinku menguatkan.

Akhirnya dengan bismillah kami mantapkan niat kami untuk membina rumah tangga bersama di kota Probolinggo. Kami yakinkan diri dan niat kami meraih barokah rumah tangga bersama-sama dengan berkumpul di kota kecil ini. Dengan memohon doa dan restu kedua orangtua dan mertua kami, syukur alhamdulillah kini kami tak berpisah lagi.

Keputusan ini menjadi langkah awal kami untuk membina rumah tangga secara mandiri, saya dan suami, di kota perantauan yang kini kami jajaki. Berjauhan dengan sanak saudara dan orangtua mengharuskan kami untuk hidup mandiri, sebagai pasangan maupun sebagai orangtua bagi anak semata wayang kami. Semoga Allah senantiasa memberi petunjuk dan melindungi. Aamiin πŸ™

Selanjutnya, kami bertekad mandiri mengurus rumah tanpa asisten, menata dan membuat rumah bak rumah idaman kami. Walau rumah yang kami tempati kini rumah dengan status menyewa, tapi kami akan menatanya semaksimal mungkin agar semakin nyaman tinggal disini. Penasaran dengan keseruannya? Tunggu di episode cerita berikutnya ya! 😊

Leave a Reply