Menggali Bakat Anak Sejak Dini

Setiap orang diciptakan tak ada yang sama. Setiap orang itu unik dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pun demikian dengan buah hati kita yang membawa unik dirinya masing-masing. Seringkali kita melihat ada anak yang sangat mudah menghafal, senang melakukan observasi, senang memimpin, pun sebaliknya ada anak yang menghindari bahkan anti dengan hal-hal tadi. Bila anak senang terhadap sesuatu dan di sisi lain tak ahli dengan hal lainnya, bagaimanakah langkah kita sebagai orangtua?

Seringkali orangtua memaksakan anak untuk “bisa” dan “suka” terhadap hal yang bukan ahlinya. Ini sama artinya dengan meratakan lembah, bukan meninggikan gunung. Sebaiknya bila kita mulai mengetahui bakat dan potensi anak kita, yang kita lakukan adalah meninggikan gunung, memfasilitasi dan mensupport kegiatan anak untuk mengasah bakat yang dibawanya. Sehingga bakat dan potensi yang dibawa akan menjadi kekuatan yang ditonjolkannya ketimbang kekurangan yang dimilikinya.

20180607_142606_0001-1923274257.png

Berdasarkan materi perkuliahan kelas Bunsay IIP, saya baru benar-benar memahami bahwa “bakat” bukan hanya sekedar keistimewaan fisik seperti jago olahraga, memasak, menari, menyanyi, dan sebagainya. Bakat ternyata juga terkait dengan keistimewaan sifat, seperti misalnya jika anak suka mengatur maka ia berbakat commander, suka meneliti maka ia berbakat sebagai observer, suka berkomunikasi maka ia berbakat sebagai seorang communicator, dan lain sebagainya.

Nah untuk mengetahui bakat anak sedari dini, kita hendaknya sering-sering melakukan observasi terhadap anak sedari dini. Berikut beberapa tahapan yang bisa dilakukan orangtua untuk mulai mengenali bakat dan potensi anak-anaknya sejak dini.

1. Saat anak masih berusia 0-7 tahun.
Bagaimana kita dapat menemukan bakat anak pada usia ini? Terlalu cepat jika kita tergesa dalam melabeli anak pada usia ini, karena pada usia ini kesukaan anak masih sering berubah-ubah. Sebaiknya kita gali apa yang menjadi dominan kesenangan dan keahlinannya dengan cara terus mengamati dan
mendokumentasikan kegiatan yanh dilakukannya. Dalam tahapan usia ini, berikan ragam aktivitas dan wawasan yang beragam kepada anak.

2. Saat anak berusia 7-10 tahun
Pada tahapan usia ini anak perlu memetakan bakat dan membuat “visioning board”. Serta
memperbanyak gagasan dan aktivitas pada klub, proyek maupun “visiting” agar dapat ditemukan bakatnya ketika usia 10 tahun. Jadi pada usia ini anak mulai bisa dilatih untuk menuliskan impiannya, dikenalkan untuk mulai merancang apa yang ingin dicapainya kelak. Selain itu, anak juga bisa mulai diajak membuat proyek bersama keluarga, dan ia dipilih sebagai pemimpin proyek, sesuai dengan bidang yang ia sukai.

3. Saat anak berusia 10-14 tahun
Usia ini merupakan “golden age” bagi fitrah bakat karena anak berada pada masa pra-aqilbaligh agar mandiri dan berkarya ketika mereka berusia 14-15 tahun. Untuk membangkitkan fitrah bakatnya adalah dengan disiplin dan konsisten. Orangtua bisa membimbing anak agar menemukan bakat yang merupakan panggilan hidupnya dengan cara magang, yaitu belajar bersama maestro/orang yang berkompeten dibidangnya.

5. Saat anak berusia lebih dari 15 tahun
Diharapkan pada usia ini anak sudah menemukan peran spesifik peradabannya, yaitu tahu bakat serta potensinya, sehingga dapat memaksimalkan kekuatannya tersebut untuk mengambil peran dalam kehidupan ini.

Nah, selama 10 hari ini, sesuai dengan tantangan Level 7 Kelas Bunsay ini, kami akan menerapkan metode penggalian bakat pada anak kami, Yusuf. Karena Yusuf masih berusia di bawah 1 tahun, maka kami akan gali terus apa yang menjadi dominan kesenangannya dengan cara terus mengamati dan mendokumentasikan kegiatan yang dilakukannya. Dalam tahapan usia ini, kami akan berikan ragam aktivitas dan wawasan yang beragam kepadanya. Tak tergesa untuk melabelinya, kami akan lebih memfokuskan pada observasi ketika mebersamai Yusuf dengan aktivitas yang dilakukannya sehari-hari.

Sumber referensi:
Materi Level 7 Kuliah Kelas Bunda Sayang Ibu Profesional Malang Raya-Jatimsel.

2 comments

  1. iya nih bun, PR juga menemukan bakat anak.. harus kasih banyak alternatif kegiatan biar anak memiliki lebih banyak wawasan..

Leave a Reply