Mengenalkan dan Membiasakan Anak Beribadah Sejak Dini

Kebiasaan yang membentuk kita, atau kita yang membentuk kebiasaan? Menurut Mommy mana yang benar? Dari pengalaman dan beberapa referensi buku yang kubaca, ternyata kitalah yang awalnya membentuk sebuah kebiasaan, kemudian kebiasaan secara otomatis akan membentuk diri kita, maka tidak salah jika ada pepatah yang mengatakan, “you’re what you do.” Bahkan banyak penelitian yang membuktikan, jika ada motivasi kuat, diikuti dengan pola kegiatan berulang selama minimal 40-60 hari secara konsisten, maka akan terbentuk sebuah kebiasaan yang jika kita tidak melakukannya, akan terasa ada yang aneh atau mengganjal. Adanya dorongan dan lingkungan yang mendukung juga menjadi salah satu faktor motivasi terbesar sesorang dapat mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibentuknya.

Sebagai seorang ibu aku sadar bahwa keluarga, terutama orangtua memiliki peran yang besar dalam mengenalkan dan membentuk kebiasaan baik sedari dini pada anak. Maka sebisa mungkin aku ingin mengajarkan kebiasaan baik bagi si kecil. Walau kadang memang tak mudah dan banyak tantangannya ya Mom, setidaknya kita sudah mengusahakan untuk memberi teladan pada anak-anak kita. Aku juga pernah membaca bahwa pengulangan sugesti dan teladan merupakan salah satu cara hypnoparenting yang bisa dilakukan untuk membentuk kepribadian dan kebiasaan positif sang anak.

Hikmah dari belajar menumbuhkan kebiasaan baik aku peroleh langsung hari ini dari anakku, Pagi tadi, saat berkumandang adzan Subuh, anak batitaku terbangun. Kulihat ia masih agak mengantuk, namun berusaha tertawa melihatku yang duduk di pinggir tempat tidur. Tiba-tiba suamiku lewat di depan pintu kamar, beliau hendak menuju mushola yang lokasinya hanya beberapa meter dari rumah kami. Melihat hal itu, si Kecil langsung bangun dari tidurnya, menyusul papanya untuk ikut ke mushola. Tak lama, baru ia melangkah menuju ruang tamu, ia kembali lagi padaku, ia ragu. Ia menarik-narik tanganku untuk ikut serta bersamanya sholat subuh di mushola pagi ini, kujelaskan padanya bahwa sayangnya aku sedang tidak sholat. Kutahu dia tidak mengerti apa yang kubicarakan dan terus merengek menggeret tanganku untuk bergegas keluar rumah, ke mushola. Si kecil bimbang, ia ingin ikut bersama papanya, tapi ingin pula aku ikut serta. Kejadian ini sama halnya dengan saat malam akan shalat  terawih kemarin, ia ingin ikut berangkat bersama papanya, namun lagi-lagi aku pun harus ikut serta berangkat. Akhirnya saat papanya beranjak berangkat meninggalkannya yang masih bimbang memilih ikut atau tidak, ia menangis minta ikut. Kubujuk, tapi maunya tetap pergi ke mushola. Bingung harus bagaimana, akhirnya kuantar ia sampai depan mushola, kuserahkan pada suami dan aku buru-buru kembali.

Aku teringat Ramadan tahun lalu adalah kali pertama kuperkenalkan shalat berjamaah di mushola pada si Kecil, Yusuf. Saat itu usianya kira-kira 9 atau 10 bulan, karena badannya yang terbilang jumbo, ia belum juga bisa merangkak, hanya mengesot dengan bantuan perut dan tangannya, hihi. Pada saat itulah pertama kali ia kuajak sholat terawih di mushola, sekaligus mengawali keikutsertaannya dalam mengikuti shalat fardhu lainnya disana. Aku dan suami mulai membiasakannya ikut serta shalat berjamaah di mushola mulai saat itu. Alhamdulillah Allah yang mudahkan. Kondisi lingkungan tempat tinggal kami saat ini termasuk aman, satu pintu, dan lokasi mushola amat dekat dengan rumah. Banyak pula anak-anak yang pergi ke mushola untuk shalat berjamaah dan mengaji disana. Kadang aku berangkat ke mushola saat Dhuhur dan Ashar, mengajak si Kecil ikut serta. Niatku saat itu hanya agar bisa shalat berjamaah, daripada shalat sendiri di rumah, menunda-nunda dan Yusufnya tidak bisa ditinggal. Berbeda saat ketika di mushola, Yusuf kecil mau tenang dan bermain di depanku saja. Lagi-lagi, Allah yang memudahkan. Saat itu sambil menggendongnya menuju mushola aku berdoa, anakku laki-laki ini, semoga kamu kelak menjadi ahli masjid ya, Nak. Hingga akhirnya tak terasa sampai saat ia bisa berjalan sendiri, kugandeng, tangannya menggenggam tanganku, terharu aku melihatnya, sambil kubisikkan padanya, “Nak, kelak kalau Mama sudah tua dan susah berjalan, gandeng Mama ke mushola ya,” :’)

MasyaaAllah, aku belajar begitu besar manfaat membentuk pola kebiasaan sedari dini. Mungkin baru sekecil ini saja yang bisa kupetik dari kebiasaan yang coba kuperkenalkan pada anakku sejak setahun yang lalu. Aku memang tak pernah tahu bagaimana kedepannya, tahun-tahun berikutnya, hingga ia remaja dan menjadi dewasa, apakah akan masih tetap sama? Aku juga tak tahu sampai di usia berapa aku masih diberikan waktu untuk membersamainya. Aku tak akan pernah tau, tapi yang kutahu, aku wajib ikhtiar dalam mengenalkan kebaikan padanya semaksimal yang kubisa. Aku yakin semua ibu juga pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Semoga Allah senantiasa membimbing dan memudahkan langkah kita ya, Mom! Aamiin.

#30HariMemetikHikmah #HikmahHariKetiga #Ramadahan2019

Leave a Reply