Memilikimu, adalah Kado Terindah Bagiku

Sumber gambar: Dokumentasi penulis

November 2017.
Sungguh besar kuasa Illahi, yang menghendaki bertemunya dua sel kecil manusia, menjadikan benih, menanam dan menghidupkannya dalam rahim ini. Maha bijaksana Sang Pencipta, yang selalu tahu kapan waktu tepat itu datang, senantiasa mengerti apa yang terbaik bagi tiap-tiap makhluk-Nya. Begitu pula halnya dengan kehadiranmu di perut bunda, Nak.

Masih jelas kuingat, di bulan November yang basah tahun lalu, Allah memberiku banyak kejutan sebagai hadiah bertambahnya angka di usiaku. Duapuluh tiga tahun, dua deret angka yang bisa dibilang masih sangat muda bagi teman-teman di bangku kuliahku, untuk berhak memilikimu, Anakku. Di dua deret angka itulah Allah menunjukkan kuasaNya, memberikan jalan takdirNya bagiku. Kudapati diriku tengah mengandungmu di usia itu, tepat satu tahun yang lalu.

November 2016.
Di bulan itu pula Allah memberikanku hadiah kelulusan sidang skripsi untuk gelar sarjanaku. Masih di bulan itu, selang beberapa hari setelah aku tahu bahwa kau tengah bersemayam di rahimku, Nak, panggilan pekerjaan yang bunda impikan datang. Maha Besar Allah, memberikan nikmat yang tiada henti, namun juga sekaligus ujian bagi bundamu kala itu. Kebimbangan sempat menerpa saat bunda harus merelakan tidak mengambil pekerjaan itu. Memantapkan niat untuk fokus menjagamu dalam kandungan ini, merawat hingga membesarkanmu dengan tangan bunda sendiri.

“Jalan Tuhan siapa yang tahu,” begitu celetukku kala itu.

“Husnudzon, setiap ketetapanNya insyaaAllah yang terbaik bagi makhlukNya,” batinku berusaha menenangkan egoku.

Kuputuskan dan kumantapkan niat untuk tidak mengambil tawaran pekerjaan saat itu. Dengan restu suami dan orangtua, kupilih jalanku untuk membersamaimu dalam rahim hingga kelahiranmu, Nak. Kunikmati pagi hingga petangku bermesraan denganmu. Masih sangat jelas teringat, tendangan kaki mungilmu yang penuh semangat saat kuputar lagu riang dari radio, pukulan kecilmu saat ku usai makan, atau sundulanmu di kala malam.

Satu, dua, tiga, hingga sembilan hitungan bulan tak terasa kau bersemayam. Perut yang semakin membuncit menjadi saksi pertumbuhanmu dalam rahimku. Puji syukur, Allah memberikan kesehatan bagi kita berdua Nak, hingga datang waktu persalinan.

19 Juli 2017
Tak akan mungkin kulupa deret tanggal itu. Tanggal kau hadir di duniaku, dunia kami, keluargamu, hai anakku. Tak akan mungkin terhapus dalam memori rentetan waktu itu. Waktu kau pecahkan tangis pertamamu, yang bersahutan dengan tangis haru dan bahagia kami di ruang persalinan kala itu.

Kau lahir saat hari sudah malam, Nak. Jam dinding di ruang persalinan saat itu terasa sangat lambat berjalan. Walau aku telah merasakan tanda-tanda kelahiranmu semenjak Subuh menjelang, namun hingga adzan Isya berkumandang kau tak jua keluar.

Suhu ruangan yang dingin kala itu membuatku menggigil, meramaikan rasa nyeri kontraksi yang datang dan pergi. Tujuh belas jam lebih kualami kontraksi menanti kelahiranmu. Selama itu aku hanya bisa berbaring di ranjang, karena merembesnya air ketuban. Dua perawat, dua nenek, dan ayahmu bergantian memijat untuk meredakan rasa sakit dan nyeri pinggang akibat kontraksi yang kualami. Samar-samar kuingat, pinggang ini bolong rasanya saat kontraksi menerjang.

Hingga akhirnya bukaan lengkap, tibalah saatnya kau dilahirkan. Dua kali nafas panjang dan mengejan tak jua membuatmu keluar. Bantuan oksigen dan persiapan alat vakum kala itu sempat mengkhawatirkanku. Dengan tekad kuat agar kau tak sampai mendapat tindakan bantuan vakum, akhirnya usaha yang ketiga kalinya berhasil mengeluarkanmu dari kandungan. Sebuah luka jahitan menjadi bonus tanda kelahiran yang diberikan dokter untuk persalinanmu. Baru kutahu begini rasanya perjuangan ibu, saat melahirkanku di dunia ini dulu.

Ahh, saat kutatap kau untuk pertama kalinya, hai Anakku. Hilang sudah rasa sakit yang sempat melanda selama.persalinanmu. Saat kusentuh kulitmu, terbayar sudah penantian panjangku. Kala kudekap kau dalam pelukku, hangat dan tenteram yang ada pada hatiku. Terimakasih Nak, hadirmu melengkapi kami. Memilikimu, adalah kado terindah bagiku, ibumu.

Leave a Reply