Membimbing Fitrah Seksual Anak

Hai Mommy!
Kali ini hingga beberapa hari kedepan, saya akan merangkum hasil presentasi dan diskusi materi tugas Level 11 di kelas Bunda Sayang Batch 3. Tema pada level kali ini adalah mengenai Fitrah Seksualitas. Wah mengapa hal ini penting dibahas dan didiskusikan di kelas ya, Mom?! Penting banget karena pendidikan seksualitas wajib dipahami oleh orangtua dan disampaikan dengan benar kepada buah hati, sesuai dengan tahapan usia sang anak. Pendidikan seksualitas bukan lagi sesuatu yang tabu dibicarakan loh Mom, karena bila anak tidak diedukasi sejak dini, maka bisa rawan terhadap penyimpangan maupun kekerasan seksual. Naudzubillah..
Maka dari itu, yuk intip materi dan hasil diskusi bersama kelompok 1 Kelas Bunda Sayang Batch 3 berikut ini.

JUDUL MATERI DISKUSI:
FITRAH SEKSUALITAS

1. Apa itu Fitrah Seksualitas?
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fitrah berarti sifat asal, kesucian, bakat, atau pembawaan. Sedangkan seksualitas berarti ciri, sifat, atau peranan seks. Menurut Ustadz Harry Santosa, fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa, dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai seorang lelaki sejati, atau sebagai perempuan sejati.
Secara umum fase seksualitas pada anak dibagi menjadi fase-fase sebagai berikut:
1. Fase oral (0-2 tahun): nikmat saat menghisap puting susu ibu.
2. Fase anal (2-4 tahun): merasa nikmat saat mengeluarkan feses dari anus.
3. Fase phallic (4-7 tahun): anak mulai memegang alat kelamin.
4. Fase genital (8-12 tahun): mulai tertarik pada lawan jenis.

Tahap pendidikan seksualitas pada anak sebagai berikut:
1. Tahap usia 1-5 tahun: kenalkan anggota tubuh secara detail.
2. Tahap usia 5-10 tahun: jawab pertanyaan anak secara benar.
3. Tahap usia 10-12 tahun: kenalkan tentang haid, mimpi basah, dan perubahan fisik.

2. Apa pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas?
Menurut salah seorang psikolog sekaligus seksolog bernama Baby Jim, kurangnya pengetahuan seksual pada anak akan memicu keingintahuan berlebih pada anak,terutama jika anak tersebut telah menginjak remaja. Anak-anak, khususnya remaja,rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan sosok ayah dan sosok ibu serta peranan keduanya berkaitan erat dengan kesesuaian fitrah kelelakian dan fitrah kewanitaan. Bagaimana kedekatan anak dengan sosok ayah dan sosok ibu pada tahap usia tertentu juga perlu diperhatikan.
a. Usia 0-2 tahun
Sesuai kebutuhan anak untuk menyusu, pada usia ini anak didekatkan pada ibunya.

b. Usia 3-6 tahun
• Anak laki-laki dan perempuan didekatkan dengan ayah dan ibunya secara seimbang agar dapat memastikan identitas seksualnya.
• Anak laki-laki dapat mengatakan “Aku adalah anak laki-laki seperti ayah, “ dan anak perempuan dapat mengatakan “Aku adalah anak perempuan seperti ibu. “
• Apabila anak tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini, maka potensi awal homoseksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai.

c. Usia 7-10 tahun
• Anak laki-laki didekatkan dengan ayah, diajak sholat berjama’ah, diajak bermain dengan ayah, diberi nasihat tentang kepemimpinan dan cinta, dijelaskan tata cara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma.
• Anak perempuan didekatkan dengan ibu, diajari tentang peran keperempuanan dan peran keibuan, dijelaskan tentang konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi.
• Apabila sosok ayah dan ibu tidak hadir pada tahap ini, maka potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksualitas semakin menguat.

d. Usia 10-14 tahun
• Dilakukan pemisahan kamar antara anak laki-laki dan perempuan.
• Diberikan warning keras jika anak tidak mengenal Tuhan secara mendalam, misalkan jika meninggalkan sholat.
• Anak laki-laki didekatkan dengan ibu agar dapat memahami secara empati sosok wanita terdekatnya, bagaimana harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan. Ibu menjadi sosok ideal pertama dan tempat curhat bagi anak laki-laki.
• Anak perempuan didekatkan dengan ayah agar dapat memahami secara empati sosok laki-laki terdekatnya, bagaimana harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata laki-laki. Ayah menjadi sosok ideal pertama dan tempat curhat anak perempuan.
• Anak laki-laki yang tidak dekat dengan ibunya pada tahap ini tidak akan memahami bagaimana perasaan, fikiran, dan sikap perempuan. Berpotensi menjadi suami yang kasar dan egois.
• Anak perempuan yang tidak dekat dengan ibunya pada tahap ini berpotensi menyerahkan kehormatannya pada laki-laki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang.

3. Masalah yang dihadapi berkaitan dengan gender
• Kebanyakan orang tua masih menganggap pendidikan seks sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan, akibatnya anak mencari tahu dari tempat lain.
• Mudahnya akses diinternet tentang seksualitas/pornografi.
• Kekerasan seksual terhadap anak.
• Anak mengenal tentang pacaran.
• LGBT dan eksposnya di media sosial.

4. Solusi terhadap masalah yang dihadapi berkaitan dengan gender
• Kesadaran orang tua untuk belajar tentang fitrah seksualitas.
• Menerapkan fitrah seksualitas sesuai usia anak.
• Menjalin hubungan yg baik dan terbuka antara orang tua dan anak.
• Tidak menganggap tabu membahas perihal seksualitas, bagian mana yang perlu dijaga dari pandangan atau sentuhan orang.
• Membentuk kepribadian berani menjaga diri sendiri.
• Memberi pandangan tentang pacaran pada usia remaja dan kapan boleh mengenal lawan jenis lebih dekat sesuai ajaran agama.
• Orang tua memberi contoh yang benar, misalkan dengan tidak telanjang di depan anak
• Anak dibiasakan memakai pakaian sesuai gendernya.

Referensi materi:
Santosa, Harry. 2017. Fitrah Based Education. Yayasan Cahaya Mutiara Timur.

Indonesia Belajar Parenting, https://m.facebook.com/indonesiaparenting/posts/487089238305266, diakses tanggal 19 September 2018.

Komunitas Institut Ibu Profesional. 2013. Bunda Sayang : 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak. Jakarta : Gazza Media.

Setelah pemaparan materi oleh kelompok 1, diadakan diskusi terkait fitrah seksual yang telah dijelaskan sebelumnya. Berikut pertanyaan sekaligus jawaban dari hasil diskusi yang telah dilaksanakan pada tanggal 20 September 2018.

1. Usia berapa yang paling aman untuk mengajak anak berdiskusi tentang seksualitas? Terutama secara verbal.
Jawaban:
Sesuai tahapan usia, diskusi tentang seksualitas bisa dimulai saat anak umur 3 tahun, misalkan mengenalkan perbedaan laki-laki dan perempuan, dengan bahasa yang sesuai dengan usia mereka tentunya. Seiring pertambahan usia, bahan diskusi juga berubah. Usia 10-12th mulai mengenalkan haid, mimpi basah, dan perubahan fisik. Pada fase ini penjelasan sudah mulai mendetail.

2. Secara umum, pengamatan Mba-Mba sekalian selama ini apakah pendidikan ttg seksualitas di sekolah sdh memadai? mungkin di PAUD atau TK?

3. Sebaiknya, pendidikan seksualitas di TK ini bagaimana?
Jawaban pertanyaan nomer 2 dan 3:
Menurut kami pendidikan seksualitas di PAUD belum mencakup keseluruhan konsep fitrah seksualitas karena sebagian besar guru-guru PAUD hanya perempuan. Sebaiknya bagi anak usia PAUD sudah saatnya dikenalkan guru laki laki sebagai sosok ayah dan guru perempuan sebagai sosok ibu.

4. Terkait tantangan gender, apabila anak terlahir dalam keluarga yang masih menganut patrilineal atau sebaliknya, bagaimana mengubah cara mendidik anak agar tidak ada yang dianakemaskan? Karena dikhawatirkan akan berpengaruh pada pertumbuhan fitrah seksualitasnya.
Jawaban:
Konsep patrilineal ini memang sulit untuk dihapuskan, karena jika dikaitkan dengan agama, secara fitrah laki-laki adalah pemimpin.
Tetapi yang perlu diubah adalah cara kita sebagai orang tua dalam menghargai emansipasi terhadap perempuan. Oleh karena itu anak laki-laki pada usia 10-14 tahun didekatkan dengan ibu supaya memahami wanita sehingga tidak akan timbul rasa superior sebagai laki-laki. Dan pola asuh orang tua harus diubah dengan tidak menganakemaskan. Harus sama rata. Adil. Adil artinya sesuai porsi gender masing-masing.

5. Disekitar lingkungan saya masih byk anak-anak kecil yg telanjang di luar rumah atau mandi diluar kadang ada yang pipis jg diluar. Sudah saya ingatkan misalnya pas pipis di luar ada ibunya..eh kok g di kamar mandi. Secara pribadi, jg saya sarankan. Tapi sepertinya belum ngreken. Mhn diberi solusi / tips yg lain.
Jawaban:
Yang perlu diberitahu adalah orang tuanya. Bagaimana konsep membangkitkan fitrah seksualitas anak. Pun bagaimana dampaknya jika tidak dijaga dengan benar. Maka dari itu mbak bisa mengajak perlahan secara persuasif untuk mengubah konsep-konsep yg dianggap jamak seperti kasus-kasus tersebut.Karena akibatnya bisa fatal. Bisa dicontohkan kasus-kasus pencabulan anak usia dini, LGBT, dll. Na’udzubillah min dzalik.. Harapannya orang tua akan tercerahkan.

Juga bisa mengingatkan anak-anak dengan kata-kata seperti “Nanti bisa sakit lo karena gak higienis, banyak kuman lo.” Tetapi poin pentingnya adalah, bahwa kuncinya ada pada pendekatan ke orang tua agar orang tua sadar untuk belajar tentang fitrah seksualitas yang benar.

6. Anak saya umur 8 tahun masih sering menyentuh kemaluannya.misalnya saat mau tidur. Atau saya dapati pagi-pagi saat bangun pagi. Apa yg sebaiknya saya lakukan. Sudah saya minta berhenti tapi kadang kalau lupa ngelakuin lagi. Msh tahap wajar g ya?
Jawaban:
Hal ini salah satu kewajaran karena merupakan naluri lelaki. Tetapi sebaiknya dihentikan. Amati, kapan dan pada saat bagaimana anak melakukannya. Kira-kira pada waktu anak akan memegang, segera cari pengalihan dan beritahu bahwa hal itu tidak baik.

7. Menurut pendapat/saran tmn2 bagaiman jika salah satu figure orangtua (ayah) tidak optimal dalam menjalankan peran karena LDM, sedang figure pengganti laki2 spt kakek sudah ndak ada, dan anak sehari2 berada dalam lingkungan perempuan semua. Kira-kira solusi terbaik apa yg dapat dilakukan?
Jawaban:
Saran kami bagi anak yang harus menjalani hubungan jarak jauh dengan ayah bisa didekatkan dengan saudara terdekat sebagai sosok ayah, seperti kakek, paman, atau om. Komunikasi dengan ayah harus terjalin secara terus menerus (bisa menggunakan video call atau media lain). Dan selalu ceritakan tentang sosok ayah, bagaimana dia bertanggung jawab sampai harus kerja jauh demi keluarga.Sampaikan penjelasan tersebut dengan bahasa logis anak2 yang menumbuhkan rasa cinta.

Demikian presentasi dan diskusi perdana yang dilakukan di kelas Bunda Sayang Batch 3 pada Level 11 kali ini. Tak lupa mereka juga menyertakan media edukasi berupa video yang bisa dilihat di link berikut ini 😊

Leave a Reply