Belajar Manajemen Waktu dan Prioritas di Bulan Ramadan

Syukur Alhamdulillah, pada saat ini masih diberi waktu dan kesempatan oleh Allah untuk berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadan. Ramadan ini adalah kali kedua aku dan keluarga menjalankan ibadah puasa di kota perantauan. Tahun kedua pula kami melewatinya bersama si Kecil yang kini usianya juga hampir menuju angka dua. Perasaan antusias, haru, dan senang menyelimuti di hari pertama ini. Kami berharap semoga semangat ini tetap terjaga hingga akhir nanti.

Di awal puasa seperti ini, aku yang notabanenya sebagai seorang istri dan ibu satu anak, tentunya merasakan perbedaan pengaturan waktu dan kegiatan dibanding dengan hari-hari biasanya. Jika di hari biasa aku sering begadang, tidur larut malam untuk sekedar membaca, menulis, atau mengerjakan kegiatan yang hanya bisa kulakukan jika si kecil tidur, kemudian baru bangun sebelum subuh, kini aku sadar aku harus kembali mengatur waktu dan menyesuaikan prioritas kegiatanku di bulan special ini. Sayang rasanya jika bulan Ramadan ini berlalu begitu saja, atau malah menjadi kurang maksimal lantaran aku tak dapat melakukan manajemen waktu dan prioritas yang baik.

Aku mulai membuat catatan skala prioritas kembali, apa yang lebih penting, mendesak, dan perlu didahulukan untuk dikerjakan, misalnya waktu masuk jam beribadah, waktu harus memasak untuk makan keluarga, menyiapkan keperluan suami, menghadiri janji, dan sebagainya. Jika pekerjaan yang sekiranya bisa menunggu atau ditunda, maka akan menjadi prioritas selanjutnya, misalnya mencuci pakaian, mengerjakan artikel sebelum tenggat waktu, atau kegiatan penting namun masih bisa menunggu lainnya. Pekerjaan atau kegiatan yang bisa kudelegasikan, kini aku memilih untuk mendelegasikannya, seperti menyetrika tumpukan baju kini kudelegasikan kepada orang lain agar aku dapat mengambil waktu me time dan fokus membersamai si kecil bermain di siang hari. Sisanya, kegiatan yang kurang penting atau tidak bermanfaat sekiranya dapat kuminimalisir atau dihilangkan sama sekali, misalnya seperti menonton TV atau sedekar scrolling timeline media sosial tanpa ada tujuan.

Selain membagi kegiatan menjadi empat skala prioritas, aku juga kembali mengatur waktu berkegiatan di bulan suci ini. Pastinya ada beberapa pos waktu yang berbeda dan butuh penyesuaian dibanding bulan-bulan lainnya. Waktu bangun yang mau tidak mau harus lebih awal dari biasanya yaitu pukul 02.30 dan waktu tidur juga tak boleh terlalu larut malam yaitu maksimal pukul 21.00 WIB. Ini berkebalikan dengan kebiasaan bangun dan tidurku sebelumnya. Apakah bisa mengubah kebiasaanku sebelumnya? Ternyata bisa, ya gimana-gimana harus bisa kan ya. Awalnya harus kita paksa, lama-lama akan terbiasa.

Di hari awal berpuasa ini, aku mendapat hikmah bahwa sebenarnya jika ada kemauan dan niat untuk bangun dan beraktifitas lebih awal, pasti bisa. Nyatanya, saat bangun sahur, ibadah malam, dan harus menyiapkan sahur, toh ternyata aku bisa. Mengapa di hari-hari biasanya terasa susah dilakukan? Karena mungkin kurang ada niat dan manajemen waktu yang harus siap dibenahi Jam istirahat tidur malam dan bangun harus diatur agar stamina bisa terjaga. Aku merasakan perbedaan yang cukup baik di awal aku menjalani pola waktu yang baru ini. Bangun dan beraktivitas lebih awal di pagi hari membuat tenaga dan pikiranku masih segar. Setelah bangun sahur dan shalat Subuh, aku bisa langsung melakukan aktivitas seperti cuci baju dan menulis. Keadaan pun masih aman terkendali, karena si Kecil masih lelap tertidur. Karena masih fresh, maka aku merasa lebih produktif dari manajemen waktu yang kuterapkan sebelumnya (begadang untuk berkegiatan). Alhamdulillah, hikmah Ramadan hari pertamaku kali ini membawaku untuk belajar mengelola waktu dan prioritas kegiatan menjadi lebih baik.

#30HariMemetikHikmah #HikmahHariKesatu #Ramadahan2019

Leave a Reply