Latar Belakang atas Ide dan Inisiasi Berdirinya Rumah Literasi Ibu dan Anak

“Kalau kau mempunyai mimpi dan cita-cita yang ingin kau gapai, jangan hanya dibayangkan, tulis dan ceritakanlah. Dengan begitu kau akan lebih bersemangat dan konsisten untuk bergerak menggapainya.”

Ungkapan itulah yang sekiranya memantapkan tekadku untuk mengikuti ajang Changemaker Family yang diadakan oleh IIP kali ini. Alhamdulillah, gayung bersambut dan semakin nyata langkahku untuk mewujudkannya, dengan keikutsertaanku pada Project kedua yang diadakan oleh Ruang Berkarya Ibu di tahun ini.

Pada Project kedua RBI ini, kami para ibu dibimbing untuk lebih mengenali potensi dan unik diri, hingga menghasilkan karya sesuai dengan unik diri masing-masing. Alhamdulillah, setelah mengikuti semua materi hebat dan sesi sharing oleh para maestro, serta menyelesaikan seluruh tugas yang diberikan, semakin menggebu diri ini, terpacu untuk segera merealisasikan mimpi, berkarya dengan memaksimalkan unik diri, serya menebar manfaat untuk lingkungan di sekitar saat ini.

Salah satu mimpi lama yang ingin segera ku realisasikan, sekaligus sebagai salah satu project keluarga kami di agenda RBI#2 kali ini adalah perpustakaan gratis. Sudah sejak duduk di bangku sekolah dulu, aku menuliskan salah satu cita-cita yang ingin ku capai ini dalam jurnal agendaku. Bisa mendirikan perpustakaan/ruang baca gratis menjadi salah satu daftar keinginan yang belum juga terlaksana, yang setiap tahun selalu saja menempati daftar resolusi dalam jurnal agenda tahunanku.

Keinginan besarku untuk membuka perpusatakaan gratis diawali dengan kegemaranku dan keluarga dalam membaca dan mengoleksi buku. Aku sangat bersyukur dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang cinta dengan buku. Tiada liburan yang dihabiskan tanpa membaca, tiada belanja dan jalan-jalan keluarga yang ujung-ujungnya juga mampir ke toko/lapak buku bersama, meskipun tak jarang kami berburu buku diskonan atau buku bekas berkualitas.

Kegemaranku dalam membaca buku dan juga menulis juga terus berlanjut hingga kini. Saat masa-masa kuliah banyak waktu senggang kuhabiskan di perpustakaan kota Malang dan tak lupa mendaftar keanggotaan perpustakaan lain saat sempat pindah ke kota Surabaya. Hingga kini saat aku telah memiliki anak, membaca -termasuk juga mengoleksi buku bacaan- masih merupakan hobi dan kesenangan yang memberikan banyak sekali manfaat.

Manfaat dari membaca buku bisa dibilang tiada tara. Membaca dapat membuka pikiran seseorang dari sebelumnya tak tahu menjadi tahu, dari sebelumnya tak paham akan menjadi paham. Membaca dapat mencerdaskan pikiran, melatih otak untuk senantiasa bekerja, sehingga bisa dijadikan obat yang ampuh menghalau kepikunan di masa senja. Berdasarkan pengalaman dan penuturan seorang guru, seseorang yang memiliki banyak ilmu dan banyak membaca, akan memiliki kearifan dalam melihat dan menghadapi fenomena, ia tak akan gampang panik dan kaget, karena sudah memiliki bekal ilmu dari bahan bacaannya. Misalnya saja ibu yang akan melahirkan anak pertamanya, ia tak akan mengalami panik yang berlebihan jikalau telah banyak membaca buku bacaan terkait dengan kehamilan dan kelahiran yang akan dijalaninya.

Sayangnya ternyata fakta menunjukkan bahwa melek literasi masyarakat di Indonesia masih menempati angka yang rendah. Hal ini ditunjukkan berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61) (dikutip dari http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2017/03/17/soal-minat-baca-indonesia-peringkat-60-dari-61-negara-396477).

Survei lain terkait minimnya tingkat membaca dan menulis masyarakat Indonesia juga ditunjukkan dalam hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) yang menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut.

Pada penelitian yang sama, PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. “PISA menyebutkan, tak ada satu siswa pun di Indonesia yang meraih nilai literasi ditingkat kelima, hanya 0,4 persen siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat empat. Selebihnya di bawah tingkat tiga, bahkan di bawah tingkat satu,” (Satria Darma dalam wawancara Republika.co.id, 2017)

Data statistik UNESCO 2012 menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Angka UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja. Sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen (Republika.co.id, 2017)

Selain melihat sangat rendahnya minat baca dan menulis masyarakat Indonesia secara garis besar berdasarkan survei yang telah dipaparkan di atas, aku kembali menengok fenomena berkait yang terjadi di lingkungan sekitar rumah kami. Saat liburan tahun baru kali ini misalnya, banyak anak-anak di kompleks perumahan maupun perkampungan yang bingung menghabiskan waktu luang bila tak diajak bepergian oleh orangtuanya. Sedangkan sebagian ibu-ibu yang notabene bekerja di ranah domestik sebagai ibu rumah tangga, tak jarang membutuhkan sebuah “ruang” untuk dapat lebih produktif dalam menggunakan sebagaian waktu luangnya.

Nah dari sinilah keluarga kami mulai melihat peluang untuk menciptakan ruang literasi yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh anak-anak maupun kaum ibu mengisi waktu luangnya agar lebih bermanfaat. Selain itu, harapan kami adalah agar ilmu dan kebermanfaatan dari buku bacaan koleksi kami tidak berhenti begitu saja di tangan kami, melainkan dapat pula dimanfaatkan oleh orang lain, terutama yang berada pada lingkungan terdekat kami. Terciptanya ruang literasi ini pada jangka panjang diharapkan dapat melahirkan generasi-generasi anak dan bunda gemar membaca dan mahir dalam menulis, sehingga nantinya juga akan diadakan kelas berbagi bacaan, mendongeng, dan menulis.

Alasan kami memfokuskan ruang literasi ini bagi kaum bunda dan anak, antara lain karena:

1. Kaum bunda/para ibu merupakan madrasah pertama dan utama bagi buah hatinya. Ibu yang cerdas InsyaaAllah akan melahirkan generasi yang cerdas pula. Berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan juga dirasa sangat penting untuk dipelajari oleh para ibu untuk melaksanakan tugasnya secara profesional.
2. Sedangkan anak merupakan generasi penerus bangsa yang hendaknya dilatih sejak dini agar terbiasa berbudaya baca-tulis. Jika kebiasaan ini telah diajarkan sejak masa ini, diharapkan kelak akan tercipta generasi muda yang melek dan cakap literasi.

InsyaAllah kami akan mulai merealisasikan cita-cita dalam membangun ruang literasi sebagai salah satu Project kami di RBI#2 ini. Kami akan mulai membuat jadwal harian realisasi sekecil apapun yang kami lakukan untuk mewujudkan rumah literasi ini. Pembuatan jadwal kerja swcara terstruktur, perumusan visi misi, hingga pengumpulan bahan bacaan dan penataan ruang akan kami dokumentasikan sebagai arsip kedepannya. Saat ini kami berpikir untuk menggunakan ruang tamu rumah kami sebagai ruang literasi sekaligus menjadi satu dengan ruang main si kecil. Buku bacaan yang kami pinjamkan merupakan buku koleksi pribadi. Namun nantinya juga tidak menutup kemungkinan untuk menerima donasi buku dan menggandeng komunitas-komunitas terkait (seperti komunitas pecinta buku, komunitas menulis) untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan literasi yang kami adakan kedepannya.

Akhir kata, ada pepatah yang bilang, “Buku adalah jendela dunia”, maka bacalah buku untuk membuka dunia! Salam Semangat Membaca!

Referensi:
Widianto, Satrio. (2017). “Soal Minat Baca, Indonesia Nomor 60 dari 61 Negara”. [Online]. Tersedia di http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2017/03/17/soal-minat-baca-indonesia-peringkat-60-dari-61-negara-396477, yang direkam pada 17 Maret 2017 pukul 08.14 WIB.

Yulaningsih dan Aminah, Andi Nur. (2014). “Literasi Indonesia Sangat Rendah”. [Online]. Tersedia di http://m.republika.co.id/berita/koran/didaktika/14/12/15/ngm3g840-literasi-indonesia-sangat-rendah, yang direkam pada Senin, 15 Desember 2014 pukul 14.00 WIB.

6 comments

Leave a Reply