Keajaiban Tak Pernah Terjadi di Zona Nyaman

Pagi ini saya membaca ngemil, salah satu teknik membaca yang diajarkan oleh alm. Bapak Hernowo Hasyim dalam bukunya yang berjudul Free Writing. Membaca ngemil adalah teknik membaca santai, seperti makan kacang goreng. Perlahan-lahan dinikmati, berbeda sekali dengan teknik membaca cepat yang sekelebat bisa menghabiskan berlembar-lembar halaman juga bisa merampungkan berbuku-buku saben harinya. Saat ini pun saya juga sedang mempraktikkan teknik free writing yang diajarkan beliau melalui buku yang (alhamdulillah) telah saya selesaikan beberapa bulan yang lalu.

Kembali ke aktivitas membaca ngemil saya kali ini, saya merasa teknik membaca ngemil ini cocok saya terapkan dengan keadaan saya saat ini sebagai fulltime mommy dengan anak bayi yang mulai banyak tingkah polahnya dan senantiasa meminta perhatian, ehe. Di sela-sela waktu ia asyik bermain ditemani teman-temannya yang mampir ke Rumah Literasi kami seperti saat ini, atau saat ia nyenyak terlelap dalam tidurnya, disitulah saya mencuri waktu untuk membaca ngemil dan berusaha segera mengikatnya melalui kegiatan free writing.

Baper alias Bawa Perubahan, Prof. Rhenald Kasali, buku itulah yang saya ambil kali ini dari rak baca kami. Buku yang sudah lama terbeli, beberapa kali diambil dan ditaruh di dekat bantal agar segera terselesaikan, nyatanya juga belum juga bisa saya tamatkan. Padahal buku ini termasuk buku ringan dengan banyak ilustrasi gambar dan sepotong-potong kalimat motivasi serta inspirasi yang yah pokoknya tipe buku yang saya suka banget dan harusnya tak butuh waktu terlalu lama untuk dilahap.

Saya buka halaman secara acak dan saya temukan sebuah kutipan yang sama dengan yang ada pada halaman belakang buku itu. “KEAJAIBAN TAK PERNAH TERJADI DI ZONA NYAMAN.” Yap, begitulah bunyinya, dan sengaja memang saya tulis dengan capslock and bold mode on di sini, niatnya biar bisa jadi pengingat buat saya juga gitu, hehe. Saya resapi tulisan tersebut. Saya renungkan tiap kata dalam kalimatnya. Zona nyaman, apakah saya sekarang berada di zona nyaman itu? Sudahkah saya keluar dari zona nyaman dan menemukan makna keajaiban? Atau sudahkah saya tak hanya menemukan keajaiban itu, tapi justru sudahkah saya menciptakan sebuah keajaiban itu sendiri? Keajaiban yang tak hanya berdampak pada diri pribadi tapi juga bisa membuat dampak kebermanfaatan buat orang lain? Bisakah saya? Bagaimana caranya?

Berbicara mengenai zona nyaman, semua pastilah senang bila berada dalam kondisi ini. Bayangkan ketika kita berada di balik selimut, dengan kasur yang begitu empuk, meringkung dengan santainya di pagi hari dengan suhu yang membuat berdiri bulu kuduk. Siapa yang tak mau, huh? 😁 Saya pun mau. Begitulah saya definisikan kata “nyaman” secara sederhana, sebuah kondisi yang memanjakan, membuat kita betah untuk berlama-lama, bahkan bisa membuat kita terlena di dalamnya. Maka “zona nyaman” disini berarti sebuah wilayah yang mengacu pada kondisi yang membuat kita betah untuk tetap berada dan menjadi seperti ini saja, ya begini-begini saja, tak perlu aneh-aneh ingin mencoba sesuatu, toh sudah berasa enak, daripada beresiko. Nah?!

Keluar dari zona nyaman bukan berarti ingin ini itu karena tidak bersyukur dengan keadaan yang ada saat ini, lho. Justru dengan keluar dari “zona nyaman” bisa kita jadikan sebagai momentum wujud syukur sekaligus meng-upgrade diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Keputusan untuk keluar dari zona nyaman berarti sebuah keberanian dan komitmen untuk memacu diri agar dapat terus tumbuh lebih baik lagi.

Keluar dari zona nyaman diperlukan niat yang kuat. Tak hanya bermodal niat semata, namun juga perlu strategi dan aksi nyata untuk melangkah melakukan sebuah perubahan. Jadi, sudah siapkah Bunda untuk keluar dari zona nyaman?! Mari bermusahabah, bawa perubahan, segera keluar dari zona nyaman, dan semangat ciptakan sebuah keajaiban!

4 comments

  1. Gimana tuh mbk cara membaca ngemil? Dinikmati gt ya? Hehe. Aku juga lagi belajar buat keluar dari ona nyaman. Trimakasih sharingnya mbk. Salam, muthihauradotcom

    • Wah salam kenal juga ya mbak 😍. Membaca ngemil ala pak Hernowo itu membaca yg dinikmati, jadi tak perlu terburu menghabiskan bacaan. Bisa sekali baca hanya 3-5 halaman. Dihayati dan bila keluar gagasan bisa dituliskan mbak 😊

Leave a Reply