Memilih dan Mengasah Keterampilan untuk Bahagia

Halo Mom! Masih menyambung ke tulisan sebelumnya mengenai menemukan kekuatan untuk bahagia, kali ini saya lanjutkan proses menuju kebahagiaan pada tahap lanjutan. Hayoo, pastinya mau kan kalau diajak untuk bahagia bersama?! Yuk ah langsung saja ya!

Menginjak materi kedua di kelas Bunda Cekatan IIP, kali ini saya dan teman-teman seperkuliahan dipertemukan dengan Mas Pandu, dengan pembahasan mengenai metakognisi. Wow, kedengarannya kece ya?! Yap, sebagaimana prinsip belajar di kelas Bunda Cekatan kali ini, yaitu Merdeka Belajar dan Belajar Merdeka, metode metakognisi ini menjadi penting untuk dibahas dan dipelajari sebelum kami melangkah lebih jauh di kelas ini.

Lantas mengapa penting untuk mengenal metakognisi? Mas Pandu menjelaskan, bahwa metakognisi sebagai bagian adab saat kita belajar. Metakognisi dipelajari agar pembelajar dapat belajar secara efektif dan tahu bagaimana cara belajar yang benar. Ilmu metakognisi ini dapat membantu kita untuk melakukan akselerasi dan efketifitas dalam melalui proses belajar. Kita jadi tahu bagaimana cara belajar yang tepat untuk diterapkan pada diri kita.

Kami (mahasiswi IIP) merupakan pembelajar mandiri, yang dituntut dapat melakukan pembelajaran mandiri dan mulai belajar menerapkan metakognisi ini. Bila di zaman dahulu masalah dalam belajar adalah minimnya akses ilmu pengetahuan, di zaman digitalisasi dan era internet ini masalah yang muncul adalah karena saking banyaknya informasi membuat kita sering terkena badai informasi, kebingungan dalam menerima informasi, atau bahkan hingga membuat kita bingung mau belajar apa dulu, informasi apa yang sebenarnya kita butuhkan, dan harus memulai dari mana. Oleh karena itulah dibutuhkan untuk menerapkan metode metakognisi ini.

Mas Pandu menjelaskan, dalam metakognisi, ada 7 tahap bagaimana kita dapat menjadi pembelajar mandiri, diantaranya adalah:

  1. Mengambil inisiatif, yaitu adanya kemauan dari diri sendiri untuk belajar
  2. Baik dengan atau tanpa orang lain
  3. Mendiagnosa kebutuhan belajar, dengan mengetahui apa yang memang seharusnya kita pelajari
  4. Formulasi tujuan belajar, yaitu mengetahui kebutuhan apa saja yang diperlukan untuk belajar dan apa sebenarnya tujuan kita belajar
  5. Mengidentifikasi kebutuhan sumber daya belajar (kebutuhan belajar dengan cara seperti apa, dengan alat apa saja)
  6. Memilih dan mengimplementasikan strategi belajar yang sesuai dengan diri kita, misalnya apakah melalui live video, mendengarkan radio, ikut pelatihan, mentoring langsung, membuat jurnal, dan sebagainya
  7. Melakukan evaluasi hasil belajar.

Tahap selanjutnya dalam metakognisi yang dapat kita lakukan adalah membuat peta belajar, dari hal-hal yang akan dan telah kita pelajari. Adanya peta belajar ini akan memudahkan kita untuk mengetahui kebutuhan belajar kita sebenarnya apa saja dan apa saja yang sudah kita pelajari dalam periode ini.

Selain menjelaskan mengenai metakognisi, Mas Pandu juga berpesan jika proses belajar harus dilakukan dengan Happy alis B-A-H-A-G-I-A. Hihi, lagi-lagi bahagia menjadi sebuah koentji ya, Mom! Kita dapat belajar dengan happy, dengan menyesuaikan waktu terbaik yang kita miliki dan suasana pendukung yang terbaik pula. Kapankah itu? Masing-masing dari kita tentunya tak sama. Ciptakan, amati, evaluasi, kemudian jadikan pola untuk selanjutnya mengendap menjadi habit untuk bisa belajar dengan happy. Saatnya kita tentukan dan temukan style belajar yang kita banget pastinya!

Pada akhirnya, kita dapat menyimpulkan bahwa metakognisi merupakan ilmu belajar tentang belajar (learning how to learn), agar kita aware terhadap proses belajar. Metakognisi ini fokus pada pembelajaran mandiri, dan tentunya kita sebagai seoarang pembelajar mandiri harus percaya diri bahwa kita sendirilah yang tahu bagaimana cara belajar yang paling pas untuk diri kita.

Materi yang dibawakan oleh Mas Pandu berkesinambungan dengan materi awal yang dibawakan oleh Ibu Septi tentang menemukan aktivitas-aktivitas yang menghantarkan pada kebahagiaan, yang selanjutnya dengan kekuatan/potensi di ranah suka dan bisa. Kami para mahasiswa kelas Bunda Cekatan IIP didorong untuk dapat menjadi pembelajar mandiri dengan melakukan penelitian mandiri terhadap pribadi masing-masing. Saya pun demikian, pada Jurnal Bunda Cekatan yang pertama saya telah menemukan 5 aktivitas paling potensial di ranah suka dan bisa saya.

Dari kelima aktivitas yang menjadi kekuatan saya, kemudian diteliti dan direnungkan lagi, keterampilan-keterampilan apa saja yang mendukung tercapainya kebahagiaan dalam menjalankan kelima aktivitas itu. Berbagai keterampilan pendukung saya rumuskan melalui gambar tabel berikut ini.

Agar segala bentuk kegiatan yang saya sukai, dan berbagai keterampilan yang ingin diasah tidak mengganngu keseimbangan peran saya sebagai ibu, istri, dan perempuan, maka saya perlu merumuskan berbagai keterampilan itu dalam tabel prioritas, yang dibagai menjadi 4 kuadran, yaitu kuadran penting-tidak mendesak, penting-mendesak, tidak penting-mendesak, serta tidak penting-tidak mendesak.

Tahap selanjutnya adalah dengan memilih 5 prioritas keterampilan yang ingin dikembangkan pada kuadran penting dan mendesak untuk dilakukan, dan hasilnya adalah sebagai berikut.

Bismillah, dari lima prioritas keterampilan inilah yang selanjutnya akan menjadi fokus untuk dilatih dan dikembangkan untuk menambah kompetensi dari ranah aktivitas yang membuat bahagia. Yuk semangat juga temukan keterampilan yang ingin Mommy tingkatkan di saat ini! ^^

Leave a Reply