Sembuhkan Luka Masa Lalu dengan Inner Child Healing

Minggu, 8 September kemarin, Alhamdulillah diizinkan Allah untuk mengikuti seminar parenting yang bertema Inner Child Healing, Bahagia Setelah Berdamai dengan Masa Lalu. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Ibu Profesional Pasuruan Raya. Dikarenakan lokasi pelaksanaannya di Kota Probolinggo, dan funplanner (bisnis media perencanaanku) menjadi salah satu sponsor acaranya, aku turut diundang menghadiri sebagai peserta seminar tersebut. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00-13.00 WIB ini diselenggarakan di Hotel Bromo Park Probolinggo.

Inner child healing

Pada kesempatan kali ini aku akan sedikit banyak berbagi cerita dan pengalaman mengikuti seminar Inner Child Healing ini. Jadi sebelum seminar, awalnya aku sudah menebak-nebak, dari judulnya nih kayaknya bakal menguras air mata, menggetar kalbu, dan jiwa raga. Eh nggak ding, bukan siraman rohani kok. Ok, awal-awal emang udah ada gambaran kalau nanti bakal banyak membahas tentang apa itu inner child, bagaiamana mengatasinya, sampai mungkin bakal ada praktik penyembuhan trauma masa lalu, pikirku seperti itu. Yap, memang benar gambaran umumnya seperti itu, diawali dengan seremonial perkenalan mengenai komunitas Ibu Profesional dan Ibu Profesional Pasuruan Raya, lanjut mbak Aniqq selaku narasumber sekaligus terapis memaparkan secara mendalam apa itu Inner Child.

Ada jiwa anak pada orang dewasa

Inner child adalah figur/sosok anak yang ada dalam diri kita, bisa positif, bisa pula negatif. Awalnya aku yang masih cukup awam dan hanya mengetahui di permukaan saja masalah inner child ini jadi banyak tahu, bahwa sebenarnya inner child ini bukan hanya yang sifatnya negatif-negatif saja dan butuh untuk disembuhkan. Ternyata inner child ini juga termasuk loh kenangan-kenangan yang terbawa alam bawah sadar yang sebenernya itu bersifat positif dan perlu terus dipupuk serta dipertahankan. Inner child oleh mbak Aniqq digambarkan sebagai gunung es, yang biasanya hanya tampak jelas di permukaan luar menjadi perilaku yang kita tunjukkan, padahal ada banyak sekali faktor masa lalu yang mungkin tanpa sadar mempengaruhi perilaku kita saat ini, terutama perilaku orangtua dalam mendidik anak. Ehem, ngeri-ngeri sedap sih ya Mom kalau udah ngomongin seputar asuh anak, karena kelak akan dimintai pertanggungjawabannya :’).

boy-look-him-body-mirror-office-worker-character-pretend-to-be-strong-man-93016294
A man is a man outside, but a boy inside, via dreamstime.com

Pernah atau sering dengar cerita, kalau Bapak/Ibu yang galak dan punya pola asuh suka membentak anaknya, ternyata dulunya diperlakukan demikian oleh orangtua atau keluarganya? Orangtua yang gampang main tangan, pukul, cubit sana sini, sampai mengikat, dulunya adalah korban main tangan orangtuanya? Bahkan karena dulunya sering dikurung, diludahi, dihina, diremehkan, dibandingkan, melihat orangtua sering bertengkar, kemudian akan mudah mengulangi pola kekerasan itu kembali kepada anak-anak ataupun pasangannya. Walau memang, sabagai orangtua kita amat sadar, bahwa masa lalu itu adalah kenangan buruk yang kita tidak mau mengulangnya kembali kepada anak-anak kita. Sayangnya, walau teori parenting begitu banyak berhamburan dan mudah dipejari, pada praktik dan kenyataannya, ada saja yang membuat emosi negatif datang dan astaghfirullah, pengasuhan yang kita sendiri sadar “itu buruk” malah kita ulangi pada anak-anak kita. Mengapa bisa?

Karena ada inner child negatif yang tertanam di alam bawah sadar kita. Walau kita menampik telah melupakan, telah memaafkan, bila belum dirilis, belum benar-benar ikhlas, maka sewaktu-waktu ia akan muncul menjadi momok dan terulang dalam pola pengasuhan anak kita. Ujung-ujungnya, pasti yang ada hanya penyesalan. Karena ya, mungkin sekian detik atau sekian menit orangtua berlaku kasar, melukai anak walau tak sengaja, tapi bekasnya bisa terus ada dan lubang lukanya terbawa hingga ia dewasa. Ehem, setiap kita mungkin punya pengalaman, masa lalu baik dan buruk, senang-sedih, kecewa atau bangga dalam menjalani hari sebagai anak-anak dahulu. Mungkin ada perlakuan orangtua, ayah-ibu kita, keluarga kita yang bisa jadi masih teringat jelas melukai diri kita yang hingga detik ini masih kita ingat. Ingatan memori yang jika berusaha melawan dan melupakannya, semakin kuat ia akan tertancap dalam pikiran.

Begitu pun denganku, aku sadar dan tak menampik bahwa aku memiliki luka pengasuhan masa lalu. Walau aku tahu mungkin orangtuaku berbuat hal tersebut demi kebaikan, dan mungkin saat itu sangat terbatas ilmu parenting yang bisa diakses, mungkin mereka tak sengaja melakukannya, atau mungkin bisa saja mereka melakukan pola pengasuhan berulang yang dulunya mereka terima. Tapi tetap, ada ingatan masa lalu, yang pada saat itu kuingat aku masih balita, malah tertancap jelas hingga usiaku yang kini menginjak umur lebih dari seperempat abad. Aku masih ingat jelas juga beberapa momen yang membuat perasaanku terluka sebagai seorang anak dahulu.

Saat proses healing kemarin inilah, setiap memori masa lalu, pengasuhan yang menoreh luka dan meninggalkan trauma, yang tanpa sadar terbawa dalam alam bawah pikiran setiap peserta kembali dihadirkan. Kami diajak untuk mengingat kembali potongan masa anak-anak kami yang mungkin tanpa sengaja melukai pribadi dewasa kami. Masa lalu yang mungkin sengaja kita tutup rapat-rapat untuk berpura-pura lupa atau kuat, dihadirkan kembali di hadapan kami. Seperti bisa ditebak, seluruh peserta nangis bombai pada sesi ini, bahkan ada yang hampir pingsan dan merasa mual. It’s ok, kata mbak Aniqq itu adalah bagian dari detoks diri. Kami diajak untuk melakukan self healing, dengan cara menyadari, menerima, dan mengikhlaskan. Kami diajak menghadirkan kembali rasa sakit itu, rasa kecewa, ataupun terluka, kami menyadari sepenuhnya perasaan kami, kemudian kami mulai menerima rasa itu, hingga tahap akhir kami mulai bisa untuk mengikhlaskan rasa luka tersebut.

Bersama narasumber dan peserta

Setelah proses rilis inner child negatif, Mbak Aniqq mengajak kami untuk mengingat pula masa-masa indah kami saat kecil, mengingat inner child positif yang tetap bisa kami pupuk dan pertahankan, mengingat segala pengorbanan-pengorbanan yang telah orangtua lakukan demi kami hingga saat ini. Kami diajak untuk bisa ikhlas, sepenuhnya berserah diri kepada Allah, karena sejatinya manusia hanyalah wayang, sedangkan Allah-lah sutradanya. Akan banyak sekali hikmah yang bisa kita petik di setiap perjalanan yang kita lalui, jika kita bisa ikhlas dan berdamai dengan luka batin. Tolak ukur kita telah ikhlas adalah saat hati tak lagi bergemuruh ketika mengingat luka, ada perasaan netral saat kita kembali mengingat atau menceritakannya.

Dari sini aku jadi banyak belajar untuk ikhlas, menerima apa-apa yang terjadi di masa lalu, yang kesemuanya menjadi potongan puzzle kehidupan yang akan menguatkanku, membentukku untuk menjadi pribadi yang mau bersyukur atas apa yang telah menjadi takdir-Nya untuk terlaksana. Sebagai istri dan seorang ibu, aku juga banyak belajar untuk mau berbenah membersamai keluarga dan anak-anak dengan perasaan lebih bahagia, santai, dan plong tanpa bayang luka masa lalu. Biarlah yang lalu menjadi pelajaran untuk diambil setiap sari pati hikmahnya, ditiru setiap apa yang baik adanya, dan ditinggalkan apa yang buruk terhadapnya.

download
When you rise your children, at the sime time you rise your grand children, via forbes

Mom, kita tak pernah bisa memilih di keluarga mana kita akan dilahirkan, siapa yang menjadi orangtua kita, tapi kita bisa memilih, mau jadi orangtua seperti apa kita untuk anak-anak kita. Saatnya kita menyembuhkan luka, putus mata rantai pola asuh yang melukai, untuk meninggalkan warisan jejak pengasuhan yang baik. Mbak Aniqq berpesan, jadilah generasi transisi, untuk anak-anak kita yang lebih bahagia, lebih tenang, dan lebih ceria. Terimakasih Mbak Raudlatul Aniqq untuk ilmu dan sesi healingnya, insyaaAllah barokah.

Ceria setelah ikhlas menyembuhkan luka

Leave a Reply