Hikmah Kedatangan dan Kepergian, Layaknya Kehidupan dan Kematian

Di setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Kalimat tersebut pastilah sudah pernah atau mungkin sering kita dengar. Ungkapan itu sering dikaitkan dengan peristiwa perpisahan yang dilami seseorang. Seperti halnya  yang terjadi di lingkungan tempat tinggalku siang tadi, ada salah satu warga yang pindah rumah. Mereka adalah keluarga yang mengontrak di lingkungan perumahan kami. Sebelum mereka berangkat, sebagian warga yang merupakan teman dekat berkumpul untuk mengantar kepergian keluarga tersebut. Tak lupa mengucap salam perpisahan, panjatan doa kesehatan dan keselamatan, juga ada pula yang memberi kenang-kenangan. Peristiwa seperti ini juga sering terjadi di lingkungan perumahan yang kini kutempati, karena selain warga yang menetap, hampir separuhnya merupakan warga pendatang yang hanya tinggal sementara dan bisa kapan saja datang lalu pergi, lantaran mutasi pekerjaan.

Peristiwa kepindahan maupun kedatangan warga baru mengingatkanku akan kehidupan dan kematian seseorang. Saat ada tetangga yang pindah untuk pergi, aku melihat jika orang/keluarga tersebut terkenal baik dengan sesama, suka menolong, dan ramah, biasanya akan banyak atau setidakya ada yang mengantar melepas kepergiannya, mendoakannya, bahkan juga merasa sedih, kehilangan, dan menyayangkan akan kepergiannya untuk pindah dari lingkungan tersebut. Aku pun jadi teringat salah satu ceramah guru ngajiku tentang hal yang sama, jika sebaliknya tetangga atau orang yang pindah merupakan orang yang dianggap banyak membawa masalah pada lingkungan, sering membuat onar dan hal yang meresahkan warga, suka merugikan orang lain, beradap buruk dan semuanya sendiri, maka para tetangga atau warga yang ditinggalkan malah akan merasa senang, lega, dan bersyukur atas kepindahannya keluar dari lingkungan tempat tinggal mereka. Guruku pernah berkata, “Apik utawa eleke adab uwong marang tonggone, iso didelok pas wong e pindah, apik/eleke wong pas urip, iso didelok pas matine,” (Baik-buruknya adab seseorang dengan tetangganya, bisa dilihat saat dia pindah, baik/buruknya orang saat hidup, bisa dilihat saat meninggalnya).

Aku tak tahu pasti apakah hal tesebut selalu benar, tapi dari beberapa pengalaman yang kualami, aku sedikit banyak menemukan kebenaran  ucapan guruku tersebut. Seperti halnya yang terjadi pada kepindahan tetaggaku kemarin yang dikenal sebagai keluarga baik dan suka menolong, maka banyak yang mengantarkan dan mendoakan kepergiannya. Sebelumnya aku juga pernah punya pengalaman memiliki tetangga yang bsa dibilang cukup “usil”, dikenal sering merepotkan yang menjurus merugikan tetangga lain, tak takut mengambil yang bukan haknya, bahkan pernah ada kasus penipuan dengan tetangganya sendiri. Tetangga tersebut memang telah dikenal banyak orang amat susah dinasehati dan cenderung semaunya sendiri. Maka berbeda dengan perlakukan warga terhadap tetangga baik yang pertama kuceritakan, saat akhirnya tetangga tipe kedua ini pindah, tak ada satupun warga yang mengantarkannya, memang sih kepindahan mereka saat itu terkesan diam-diam, tak ada pamit dan saling mendoakan. Warga yang sebenarnya tahu pun, pura-pura tidak tahu atau malah tak mau tahu. Irnisnya, banyak yang mengucap syukur dan bersuka cita atas kepindahannya dari ligkungan.

Subhanallah, Maha besar Allah yang memberi kita akal dan perasaan untuk membaca melalui apa yang kita lihat, apa yang kita rasa dari alam dan lingkungan tempat kita berada. Sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh guru, bahwa apa yang seringkali kita tangkap di kehidupan itulah ayat Allah yang hidup, segala sesuatu yang terjadi dan kita saksikan memberikanpelajaran yang amat besar jika kita mau mengambil hikmahnya.

Peristiwa kepindahan seseorang sekali lagi menginagtkanku akan kematian. Aku melihat contoh kepergian para ‘alim ulama, seseorang yang sholeh/sholihah, baik akhlaknya, selain syakaratul maut yang insyaAllah husnul khatimah, akan banyak ditangisi, diantar dengan iringan doa oleh begitu banyak orang. Lantunan doa dan amalan-amalan kebaikannya semasa hidup seringkali masih dilanjutkan tak hanya oleh keluarga dan anak-anaknya, namun juga banyak orang lain, Maasya Allah.

Aku jadi berpikir, muara hidup di dunia ini adalah kematian, untuk hidup yang lebih kekal. Maka tak salah bila cita-cita tertinggi seorang muslim adalah meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Yaa Allah, semoga kita dirahmati Allah menjadi bagian hamba yang diijinkan meninggal dalam sebaik-baiknya keadaan saat meninggal, dalam keadaan husnul khatimah, dalam ampunan dan limapahan kasih-Nya.

Lagi, aku teringat pesan guruku, “Urip iku nandur, sapa sing nandur becik bakal mulya, sapa sing nandur ala bakal cilaka.” (Hidup itu seperti bertanam-apa yang kita tanam, siapa yang menanam kebaikan akan mulia, dan siapa yang menanam keburukan akan mendapat celaka). Semoga kita menjadi hamba Allah yang selalu diberikan petunjuk oleh-Nya. Aamiin.

#30HariMemetikHikmah #HikmahHariKeLima #Ramadahan2019

Leave a Reply