Gimana rasanya nikah muda?



“Hey, gimana rasanya nikah muda?” “Enak nggak nikah muda?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sering aku dengar dari teman-teman sebaya, saudara, bahkan adek maupun kakak senior. Hmm kebanyakan sih memang dari teman-teman seumuran yang “kepo” gimana rasanya udah nikah & jadi istri orang, hihi. Ngomongin soal “rasa” yang pasti bisa jadi manis, asam, asin, pedes, atau kecut bagaikan asem-semar mesem *eaa jadi nyanyi lagunya jaran goyang kan 😂.

Kalau menurut pendapatku yang udah ngejalanin (alhamdulillah), rasanya seneng, lega. Nggak cuma aku, orangtua dan keluarga besar juga lega karena anak ceweknya akhirnya udah ada yg ng-sah-in, nggak cuma dibawa petenteng sana petenteng sini. Yah orangtua kadang ada yang rada sedih karena anak cewek yang biasanya ikut ngramein rumah harus keluar ikut suaminya, tapi rasa seneng & leganya ngalahin rasa sedihnya dong. Yang penting kamu masih sering-sering sambang (nengokin) ortu & mertua loh yaa kalau udah tinggal sendiri 😊.

“Emang nggak sayang tuh, uda sekolah & kuliah tinggi-tinggi, eh abis itu nikah?”

“Nggak pengen seneng-seneng/main dulu mumpung masih muda, ntar terkekang loh?”

“Yakin udah siap nikah, kan masih muda?”

NAH LOOOO

Pertanyaan maupun komentar macam ini yang juga biasanya diutarain sama khalayak ke kamu yang mutusin buat nikah muda. Eits tenang & santai aja shayy jangan dibawa emosi ya. Asal kita beneran uda yakin & siap sama keputusan kita, semua pertanyaan di atas bisa dijawab deh 😄. Oh iya.. muda bukan berarti muda bangeeet baru sweetseventeen loh ya, kalau di Indo sih sesuai ketentuan umur minimal ya.

Ceritanya waktu itu aku akhirnya menikah di usiaku yang belum genap 22 tahun. Yup, aku masih duduk di semester 5 bangku perkuliahan. Kalau di inget-inget, kayaknya aku satu-satunya mahasiswa di angkatanku yang nikah duluan. Banyak yang tanya dooong, “kok cepet yaa udah nikah aja belum lulus?” “Nggak sayang tuh nggak pengen kerja dulu?” “Ehh kok tiba-tiba?” jeng jengggg~

Sebenernya nggak tiba-tiba juga sih, aku kenal sama suamiku sekarang, sejak mau lulus SMA. Nah setelah kenal & dekat selama kurang lebih 2,5 tahun akhirnya kita memutuskan untuk menikah (bukan kita aja sih ya, kesepakatan dan restu kedua keluarga besar juga pastinya).

UDAH YAKIN? NGGAK TAKUT NYESEL?

Yakin. Salah satu modal yang pentiiiiing banget sebelum maju ke jenjang pernikahan. Kalau dari awal udah nggak yakin, terus gimana dong ngejalaninnya? Yakin kalau keputusan yang diambil nggak salah dan yakin kalau si doi adalah jodoh terbaik yang dikirim Sang pencipta untuk mendampingi hidup ini #tsaah. Gimana biar yakin? Selain pertimbangan keluarga, pertimbangan ini itu, yang paaliiing utama menurutku adalah bertanya langsung sama Yang di Atas, Sang pemilik dan pembolak-balik hati manusia, Allah SWT. Istiqarah untuk mencari jawaban di kala bimbang atau saat akan mengambil keputusan besar dalam hidup. Aku yakin, kalau Allah sudah menjawab baik melalui isharah-Nya, itu adalah jaminan terbaik oleh Allah bagi kita. Nah itulah alasan utama yang bikin aku mantap menikah dengannya.

CEPET? KECEPETAN? ATAU SEBALIKNYA KELAMBATAN? Cepat atau lambat itu hanya sebuah hitungan, yang kita nggak tahu kapan berakhirnya. Cepat atau lambat juga relatif buat masing-masing orang. Terlalu cepat menurut si A belum tentu cepat untuk si B, begitupun sebaliknya. Daaaan kalau namanya jodoh, kita juga nggak tahu kapan datangnya. Saat muncul tanda-tandanya, segera berdoa bila memang dijodohkan, semoga dipermudah jalannya dan disegerakan, tetapi kalau tidak, semoga dijauhkan dan diberi penggantinya 🙏.

Berikut beberapa hadist dan ayat Al Quran tentang menikah:

Artinya: “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah pada separuh yang lainnya“. (HR. Al-Baihaqi)

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir“. (QS. Ar-Rum: 21)

Alhamdulillah, menikah membuat perasaanku lega dan tenteram. Kalau sebelumnya single kemana-mana apa-apa sendiri, sekarang ada yang nemenin, ada yang jagain. Bisa saling ada dan ngingetin satu sama lain ❤

Nah, buat yang belum menikah, tapi sudah siap dan mampu berkeluarga, semoga disegerakan ya 🙏

Artinya: “Wahai para generasi muda, barangsiapa diantaramu sudah mampu berkeluarga, hendaknya dia menikah. Karena hal itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya. Dan barangiapa yang belum mampu, hendaknya dia berpuasa, karena puasa dapat mengendalikanmu“. (Muttafaqun ‘Alaih)

Leave a Reply