Belajar Mengelola Emosi di Bulan Ramadan

Menjalankan puasa Ramadan di hari kedua, harus tetap semangat ya Mom! Selain menahan rasa haus dan lapar, juga menahan segala hawa nafsu, salah satunya berupa emosi negatif, yaitu marah. Sebal, kemudian jadi marah-marah, apakah Mommy familiar dengan jenis emosi yang satu ini? Ups, apalagi orang tersayang, alias anak dan suami seringkali jadi alasan sekaligus sasaran terdekat ya, Mom. Saabar, sabaar.. namanya juga anak-anak, kadang ada sisi manis cranky-nya yang bikin gemas. Namanya juga suami, makhluk Mars yang tidak bisa diajak bahasa kode-mengode, dan kadang bisa dibilang kurang peka, hihi.

Di bulan Ramadan ini, yuk ah Mom kita belajar untuk nggak gampang baper, lebih sabar, dan positive thinking. Aku juga masih proses belajar kok. Pelajaran di hari kedua puasa ini tadi aku dapat dari anak batitaku, Yusuf. Hari ini entah kenapa dia jadi lebih sensitif dan cranky, dikit-dikit merengek nangis. Saat mau makan sarapan, entah apa yang salah atau tidak sesuai dengan keamuannya, ia uring-uringan. Huft, dalam pikiranku kenapa sih ya ini. “Tenang, tenang, hadapi dengan tenang Lel, jangan malah ikut uring-uringan, maklum masih kecil belum bisa ngomong lancer, belum bisa ngungkapin apa yang sebenarnya dia mau,” batinku mencoba tetap waras. Kuberi waktu sejenak untuknya menenangkan diri, karena semakin diusik sepertinya dia semakin menjadi rewelnya.

Tak lama kemudian setelah agak tenang, baru kuhampiri dan kupeluk dalam pangkuan. Sambil menepuk-nepuk punggungnya (aku hafal saat dia sedih atau sebal, dia akan mencari pelukan dan tepukan lembut untuk memberi rasa nyaman), kuajak dia berdialog, menanyakan dan mengonfirmasi perasaannya, apa dia sedih atau marah, dan membujuknya dengan kalimat positif. Aku tahu di usianya yang masih belum genap dua tahun ini, terkadang dia bingung dengan perasaannya, terkadang sedih, kesal, kecewa, atau marah, namun tidak dapat mengungkapkannya kepada orang sekitar. Aku harus sadar bahwa aku sebagai orang dewasa, terutama ibunya, harus menerima dan menyadari bahwa ia masih dalam tahap belajar. Cara seperti ini berhasil dan efektif kuterapkan saat menghadapi anakku saat rewel, dibanding jika emaknya ikutan drama, rewelnya anak akan lebih lama. Menghadapi si Kecil dengan tenang, membuat si anak lebih cepat tenang juga.

Aku jadi makin belajar, saat kita sebagai orangtua bisa mengelola emosi dengan baik, menegur dengan kalimat positif, sabar mengarahkan, meredam saat anak uring-uringan, maka anak juga akan belajar bagaimana orangtua mengelola emosinya. Misalnya saja saat anak teriak-teriak karena meminta sesuatu, kemudian kita malah balas meneriakinya dengan kalimat, “Hei! Jangan teriak-teriak dong!” dengan berteriak pula, maka apa bedanya? Anak akan belajar dan banyak menyerap dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya secara langsung.

Komunikasi yang baik dan efektif dengan anak mutlak diperlukan, karena anak akan banyak mencontoh orangtuanya dalam berkomunikasi. Ada beberapa tips teknik dasar berbicara pada anak, yang kuperoleh dari buku smart Parenting with Love karya Bunda Arifah, diantaranya adalah:

  1. Turunkan tubuh setinggi anak
  2. Tatap matanya
  3. Belai tubuhnya
  4. Jaga intonasi (tegas tapi lembut)
  5. Gunakan hanya kalimat positif
  6. Dengar alasan/penjelasan mereka tanpa menyela
  7. Ulangi kata-kata mereka untuk menunjukkan pengertian kita
  8. Tetap tenang (jika orangtua dalam keadaan emosi negative, berdamailah dulu dengan hati)

Maasya Allah, semoga kita senantiasa diberi petunjuk dalam mendidik dan membimbing anak kita dengan baik, ya Mom. Aamiin.

#30HariMemetikHikmah #HikmahHariKedua #Ramadahan2019

Leave a Reply