Perbaiki Kualitas Hidup dengan Manajemen Waktu, Bagaimana Caranya?

Yeyy! Pekan ini kami, mahasiswa Kelas Bunda Cekatan Intitut Ibu Profesional telah masuk ke tahap kedua pembelajaran, yaitu kelas ulat-ulat. Loh kok kelas ulat-ulat? Iyaa, semacam metamorphosis kupu-kupu, yang tahap satu telah kami lewati di kelas telur, kali ini kami masuk tahap kedua sebelum akhirnya menjadi kupu-kupu. Makin seru dan menantang pastinya pembelajaran dan tugas-tuganya, bikin antusias plus deg degan.

Pada tahap ulat-ulat ini, para mahasiswa siap untuk memasuki The Jungle of Knowledge, dimana banyak sekali ilmu bertebaran yang akan saling dibagikan oleh mahasiswa kelas Bunda Cekatan. Dianalogikan sebagai ulat, kami merdeka untuk memilih “makanan” (ilmu) apa yang sesaui dengan kebutuhan masing-masing untuk dipelajari, merdeka mencari dan menemukan dari berbagai sumber ilmu, asalkan sumber ilmu itu shahih, dapat dipertanggungjawakan, juga diambil sesaui dengan adab dalam menuntut ilmu.

Pada tahap ini, kami diajarkan untuk mulai mandiri dan berinisiatif untuk mencari sumber ilmu, memakannya (membaca/mendengarkan/menonton, dan memahaminya), kemudian berbagi kepada teman lainnya atas apa yang telah didapatkan dari proses belajar itu tadi. Dikarenakan banyaknya sumber ilmu dengan berbagai ragam cabang ilmu pengetahuan yang dibagikan para mahasiswa, maka agar tidak tersesat kita diarahkan untuk berpedoman pada peta belajar (Mind Mapping) yang telah dibuat pada pertemuan kelas sebelumnya. Jika terjadi kebingungan, tersesat di tengah hutan saat mengambil ilmu, diperbolehkan untuk merevisi peta, mengganti, atau membuat peta yang baru. Sekali lagi Ibu Septi memberikan keputusan belajar pada masing-masing mahasiswa, beliau berkata, “Tidak ada yang salah dengan mengambil sebuah keputusan, yang ada adalah mau menanggung konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.”

Oleh karena itu, tips yang diberikan agar kami bisa fokus dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai Mind Map yang dibuat, maka harus mampu membedakan mana ilmu yang benar-benar kita butuhkan, dan mana yang hanya sekedar tertarik saja. Belajar untuk mengatakan pada diri sendiri, “Menarik, tapi saya tidak tertarik.”

Berpedoman pada mind map yang telah saya buat sebelumnya, maka pada pekan ini saya memutuskan untuk fokus mempelajari lebih dalam mengenai Topik Manajemen Waktu. Adapun Tabel Makananku pada jurnal pekan ini adalah sebagai berikut.

Pada pekan ini saya sedang menyelesaikan sebuah buku manajemen waktu, dengan Judul Tik Tok Tik Tok : Atur Waktumu atau Merugi Selamanya, karya Cecilia Pretty Grafiani, S. I. Kom., yang diterbitkan oleh Penerbit Psikologi Corner, cetakan Desember 2017. Buku ini berisi mengenai filosofi hingga teknis dalam menerapkan manajemen waktu, bagaimana kita dapat menentukan skala prioritas, dan membuat diri sadar untuk menjalankan waktu yang dimiliki selama 24 jam, berbagai fenomena penggunaan waktu, hingga hal apa saja yang sebenarnya menghambat tercapainya manajemen waktu beserta berbagai tipsnya.

Di buku ini juga terdapat metode manajemen waktu yang sangat efektif telah dilakukan oleh Bangsa Jepang hingga turun-temurun (dalam Grafiani, Cecillia Pretty, 2017), antara lain:

  1. Keizen, bekerja sesuai timeline. Setiap pekerjaan harus dilaksanakan dan diselesaikan sesuai jadwal agar tak timbul pemborosan. Mereka sangat menjunjung tinggi asas “optimal daya dan waktu dalam menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.
  2. Tidur 30 menit di jam istirahat. Orang jepang sangatlah menghargai waktu, Jika memang waktunya bekerja, mereka akan fokus bekerja dengan serius hingga jam kerja usai, jika waktu makan siang mereka akan mengakrabkan diri dan mengobrol dengan teman, tak lupa mereka juga tetap bisa meluangkan waktu selama 30 menit untuk recharge energi dengan tidur siang agar lebih produktif kembali.
  3. Bushido, merupakan prinsip kerja keras yang dijunjung dan turun-temurun.
  4. Keishan, yaitu melakukan perubahan dan inovasi secara berkesinambungan. Konsep ini menuntut kerajinan, kesungguhan, minat, dan keyakinan hingga akhirnya timbul kemauan untuk belajar dari orang lain.
  5. Tepat waktu daripada mengecewakan. Kebiasaan tepat waktu orang Jepang sudah sangat terkenal, mereka memilih untuk datang lebih awal di jam yang telah disepakati, daripada terlambat, karena tak ingin membuat orang lain cemas, kecewa, dan sedih karena harus menunggu. Orang Jepang paham, jika seseorang akan gelisah di beberapa menit terakhir sebelum waktu yang ditentukan. Mereka juga paham, bahwa setiap orang memiliki kesibukan/aktivitas lain yang harus dilakukan, maka mereka pun harus saling menghargai waktu yang telah disepakati bersama.

Budaya inilah yang pada akhirnya membangun karakter penduduk Jepang untuk disiplin pada waktu, hingga akhirnya bisa mengakar menjadi sebuah kebiasaan dan tradisi masyarakat Jepang yang dapat kita contoh.

Melakukan pengaturan waktu yang baik tentunya akan memberikan dampak positif bagi hidup kita. Berikut saya bagikan kutipan dari buku ini mengenai manfaat dan ciri orang yang melakukan manajemen waktu yang baik (Dodd dan Sundheim, dalam Grafiani, Cecillia Pretty, 2017):

  1. Mereka yang melakukan manajemen waktu akan lebih produktif
  2. Memiliki energi yang banyak untuk kegiatan yang perlu diselesaikan
  3. Mengurangi stres
  4. Dapat melakukan kegiatan yang ingin dilakukan
  5. Lebih banyak menyelesaikan pekerjaan
  6. Dapat memberikan dampak positif terhadap sesama
  7. Dapat merasakan hidup lebih baik

Dari buku bersampul kuning karya Cecillia Pretty ini, konsep manajemen waktu diartikan sebagai tindakan dan proses perencanaan serta pelaksanaan kontrol sadar atas sejumlah waktu yang akan digunakan untuk aktivitas tertentu, khususnya untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan produktivitas. Manajemen waktu bukan berarti seseorang dapat mengerjakan begitu banyak pekerjaan, melainkan ia fokus pada tugas utama yang ditetapkan; melakukan pekerjaan berkualitas tinggi, bukan sekedar bisa kerja banyak.

Dalam mencapai manajemen waktu yang baik, kita sebaiknya dapat membedakan antara pekerjaan yang penting dan mendesak. Seringkali kita hanya fokus dan banyak mencurahkan waktu hanya pada kegiatan-kegiatan yang sifatnya mendesak, entah itu penting atau malah tidak penting untuk dilakukan. Sementara itu, hal yang sebenarnya penting malah seringkali diabaikan dan ditunda, karena memiliki waktu tenggat/deadline yang dinilai masih lama (belum mendesak). Jika hal ini terus terjadi, maka kita akan terperosok dalam waktu krisis yang membuat kita terus saja bergumul dengan makin banyak hal yang penting dan mendesak harus dilakukan. Alangkah lebih baik jika kita segera menangani/mengerjakan hal-hal penting sebelum akhirnya hal itu menjadi mendesak, sehingga kita dapat memberikan kualitas dan curahan terbaik kita pada setiap pekerjaan penting yang harus dilakukan.

Wah ternyata banyak sekali ya manfaat yang dapat kita peroleh jika mampu melakukan manajemen waktu dengan baik, bahkan dapat membantu kita dalam merubah kualitas kehidupan kita menjadi lebih baik. Secara pribadi, aku beranggapan bahwa ilmu manajemen waktu ini sangatlah penting untuk dipelajari dan dikuasasi oleh siapapun, tak terkecuali kita sebagai seorang ibu, istri dan pribadi perempuan dengan ragam peran dan aktivitas. Yuk, semangat belajar mengatur waktu untuk memperoleh kualitas kehidupan yang lebih baik!

Dan berikut adalah Tabel Makananku setelah menggali kembali Mind Map yang telah kubuat dan melakukan jelajah potluck ilmu yang dibagikan oleh teman-teman di Hutan Pengetahuan Kelas Bunda Cekatan periode ini. Selamat belajar dan bersinergi bersama teman-teman ^^9.

 


 

 

Leave a Reply