ASI-ku Sedikit?

“Lhoh nggak puas itu anaknya minum, ASI mu nggak cukup!”

“Disambung aja pakai formula, kasian anaknya masih laper!”

“Dikit-dikit kok bayi mimik, kurang itu ASI-nya!”

“Aku dulu selalu tambah susu formula, bayi laki-laki minumnya kuat gak bakal cukup itu ASI-nya!”

Aahh itu baru beberapa dari banyak pernyataan underestimate tentang ASI-ku di awal-awal menyusui dulu. Pusing, sedih, dan sumpek rasanya. Hayoo pernah ngalamin hal yang sama juga, nggak Mom?! Yup pengalaman awal menyusui si kecil dan banyaak suara-suara meremehkan kurangnya ASI ini dan malah menyarankan untuk menggunakan susu formula saja. Sediih rasanya, apalagi jika komentar negatif itu datangnya dari orang-orang terdekat kita sendiri. Sampai sempat terpikir, kenapa yaa tidak menjadi pendukung saja dengan memberikan kata-kata penenang dan motivasi untuk newmom dan newborn ini. Huaaaa, alih-alih jadi booster, yang ada malah bisa menjadi salah satu faktor penghambat ASI karena membuat si ibu jadi stress ya 😭.

Sangat beruntung untuk ibu-ibu di luar sana yang saat bayi lahir ASI langsung keluar dengan lancar dan derasnya, ditambah bila bayi juga langsung bisa menyusui dengan lahapnya tanpa dibumbui berbagai drama. Masih beruntung juga untuk para Mommy yang walau di awal menyusui masih mengalami kendala, namun pada akhirnya bisa menyusui dengan lancar buah hatinya. Beruntungnya untuk Mommy yang bisa menyusui dan bayi yang disusui, apalagi secara ekslusif. Ya, kita termasuk orang yang beruntung dan wajib mensyukurinya bila kita jadi salah satu diantara 2 hal tersebut, Mom. Karena tidak semua ibu dan diluar sana dapat melaluinya karena berbagai faktor.

Pengalaman pertama kali menyusui si kecil bagiku adalah salah satu momen yang takkan terlupakan. Sebagai newmom, menyusui bukanlah hal yang mudah. Meski sebelum melahirkan pun aku telah banyak membaca referensi tentang teknik menyusui dan mengikuti konseling laktasi di sela-sela kontrol kehamilan pertamaku itu, tapi tetap saja praktek tak segampang memahami teori.

Pertama kali menyusui bayiku saat itu kulakukan pagi hari setelah semalam aku melahirkannya. Apakah aku tidak melakukan IMD? Bagi yang belum mengetahui IMD, IMD merupakan singkatan dari Inisiasi Menyusui Dini. IMD dilakukan beberapa saat setelah bayi dilahirkan, bayi akan diletakkan di atas dada sang ibu. Saat itulah respon indra pengecap bayi akan refleks mencari puting ibu dan bisa menjadi momen awal menyusuinya. IMD ini dipercaya bisa menjadi faktor penting yang memengaruhi lancarnya proses mengASIhi. IMD ini telah banyak diterapkan oleh bidan dan dokter-dokter di Rumah Sakit Bersalin.

Nah seusai melahirkan anakku secara normal dan mendapat beberapa jahitan, saat itu si bayi tidak langsung diberikan dan ditaruh di atas dada, namun terlebih dahulu dibersihkan oleh perawat dan diadzani oleh papanya. Tak lama berselang, baru si bayi diletakkan di atas dada untuk melakukan proses IMD. Saat itu Yusuf kecil tidak langsung reflek mencari puting, namun malah tertidur pulas karena merasa mendapat kehangatan dari mamanya, hehe. Wah gagal dong IMD-nya? Tidak juga, karena memang bisa jadi saat itu bayi ada yang bisa langsung menyusu tapi ada juga yang belum mau menyusu tapi malah asyik tidur seperti kasus Yusuf ini. Walau coba dibangunkan untuk belajar menyusu, pada awalnya ia tetap tidur pulas. Dan kata perawat kala itu, tak perlu dipaksa, biar terjadi secara alamiah saja, hehe. Akhirnya tak selang berapa lama, ia pun mau menyusu walau hanya sebentar.

Tidak masalah bila di hari pertama belum atau hanya sedikit menyusu, karena bayi masih memiliki persediaan makanan di lambungnya saat ia dilahirkan hingga 2 hari lamanya. Nah esok paginya aku mulai lagi untuk menyusuinya secara langsung. Walau pada awal terasa susah untuk menyusui dengan posisi tepat dan si bayi juga sama berlatih untuk dapat menyusu dengan maksimal, alhamdulillah pada akhirnya ia akan terbiasa dan jadi jago menentukan posisi yang nyaman untuknya.

Awal-awal menyusui kurasa memang merupakan waktu krusial keberhasilan dalam mengASI selanjutnya. Kemauan yang kuat dan kepercayaan diri bahwa diri ini bisa memberikan ASI serta yakin bahwa ASI kita akan cukup bagi sang bayi, akan sangat membantu keberhasilan dalam menyusui di hari-hari selanjutnya. Selain faktor luar berupa booster makanan/minuman ASI, dukungan moril orang-orang terdekat, faktor dari dalam diri sendiri memegang kendali yang sangat besar. Walau ada omongan kanan-kiri tentang ASI kita yang kurang, tak cukup baik, dan sebagainya, hadapi dengan tenang Mom, sugesti positif diri dan buktikan bahwa ASI-ku cukup kok 😊

Leave a Reply