3 Alasan Terbesar Penumpukan Barang di Rumah yang Seringkali Tak Disadari

Hai Mom! Masih dalam rangka menerapkan decluttering dalam rumah nih. Gimana gimana? Apa Mommy juga sudah mulai menyingkirkan barang-barang yang tak lagi terpakai dan hanya menyimpan barang yang benar-benar dibutuhkan lagi digunakan?

Kalau belum, pelan-pelan saja yuk kita mulai. Sambil kita lakukan evaluasi tentang kebiasaan menimbun barang yang seringkali tak kita sadari. Wah, bisa sampai nggak sadar gitu ya?! Yup, sering bahkan kita menyimpan hal-hal remeh yang sebenarnya tak terpakai hingga membuat ruang atau rumah yang kita tempati terasa sesak dan sempit.

Rumah, berapapun ukurannya, bisa terasa lebih sempit dikarenakan terjadinya penumpukan barang. Seperti adanya baju yang lama tak terpakai di tumpukan lemari, perkakas lama dalam kardus di sudut gudang, sisa bahan bangunan di garasi, tumpukan berkas lama di meja kerja, dan lain sebagainya yang menyita tempat di dalam rumah kita. Hal itulah yang membuat rumah kita seringkali terasa sesak.

Ternyata, ada 3 alasan terbesar yang menjadi penyebab terjadinya penumpukan barang di rumah kita lho Mom!

Perilaku konsumtif dan menuruti keinginan menyebabkan penimbunan barang

1. Keinginan

Keinginan untuk terus memiliki, tetapi sebenarnya kebutuhan sudah tercukupi, menjadi penyebab utama dan pertama terjadinya penumpukan barang. Sudahkah kita dapat membedakan apa itu kebutuhan dan apa itu keinginan, Mom? Prof. Dr. Otto Sumarwoto dalam Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan (Suratini, 2018) mengungkapkan bahwa kebutuhan merupakan sesuatu yang terbatas dan diperlukan untuk mencapai kesehatan, keamanan, dan aspek-aspek yang berkaitan secara manusiawi. Sementara keinginan diartikan sebagai kebalikannya, selalu ingin lebih banyak, terus menanjak, dan tidak memiliki batas (the rising demands).

Misalnya saja nih, saat kita sudah memiliki jaket berwarna biru, kemudian saat jalan-jalan dan melihat ada jaket berwarna biru muda, tertariklah kita karena modelnya, akhirnya terbeli. Sebulan kemudian, ada diskon besar-besaran untuk sebuah jaket yang kita anggap sayang untuk dilewatkan. Naaah, bila lagi-lagi dibeli, dan hal ini tidak hanya terjadi pada satu jenis barang di rumah kita, pastilah penumpukan barang tak lagi dapat terhindarkan. Karena keinginan sifatnya tak terbatas, maka harus pintar-pintar mengendalikan ya Mom!

Menyimpan barang tak terpakai menyebabkan timbunan

2. Kenangan

Barang yang mengandung banyak kenangan seringkali jadi alasan sebagian besar orang untuk terus menyimpannya. Bahkan, bila barang tersebut sudah tak lagi berfungsi, dengan alasan “mengandung kenangan”, maka barang tersebut pun akhirnya berjajar, menumpuk dan memenuhi ruangan. Padahal sebenarnya, kenangan ada di dalam ingatan pikiran kita loh, meskipun barang tersebut tak lagi kita simpan.

Membuang barang yang memiliki kenangan tak sama dengan membuang kenangan itu sendiri. Misalnya saja seperti tiket nonton bersama pasangan untuk yang pertama kali, baju anak saat masih bayi yang bertahun-tahun tersimpan di lemari, atau sepatu kesayangan yang sebenarnya sudah rusak dan tak lagi dapat digunakan. Dengan membuang tiket nonton yang menumpuk, bukan berarti kita melupakan kenangan pengalaman tersebut. Dengan menghibahkan pakaian bayi anak kita, bukan berarti pula kita menghapus ingatan tentang pengasuhan anak saat bayi.

Hanya berharap tanpa adanya tindakan akan membuat diri tertekan

3. Harapan

Harapan kelak suatu benda akan bisa berguna juga menjadi salah satu penyebab utama penimbunan barang di rumah. Membeli dan menyimpang barang pun seringkali disebabkan karena adanya harapan kelak akan digunakan. Seperti menyimpan kotak-kotak kardus dan kaleng sisa kue yang harapannya bisa dipakai kembali nanti. Padahal, pada kenyataannya tak terpakai dan hanya memenuhi sudut lemari saja. Bahkan bisa jadi tumpukan barang tersebut lama kelamaan akan rusak. Karena memang beberapa barang diproduksi untuk segera digunakan dan bukan sekedar disimpan lalu membentuk timbunan. Contoh lain adalah buku yang yang terus menerus dibeli, dengan harapan kelak akan dibaca. Semakin banyak buku baru terbeli hingga akhirnya menggunung dengan “harapan akan dibaca”. Padahal ada pepatah yang bilang bahwa hal paling jahat dari membakar buku adalah tidak membacanya. Hayooo :”(.

Nah sebenarnya tak ada salahnya memiliki harapan, karena harapan akan menimbulkan semangat. Namun jika harapan terus menerus ditumpuk tanpa adanya aksi melalui tindakan, malah akan menjadi beban. Justru setiap melihat barang yang tertumpuk tersebut kita akan merasa terbebani karena tak juga dapat menggunakannya. Oleh karena itu, terkadang kita harus mulai melakukan seleksi untuk menyingkirkan barang-barang yang menumpuk beban harapan. Dengan begitu kita justru dapat fokus melihat mana sesungguhnya yang benar-benar ingin kita lakukan saat ini dan bukan nanti-nanti.

Saatnya berubah demi hidup yang lebih baik

Jadi Mom, setelah menyadari 3 alasan terbesar kita melakukan penumpukan barang di rumah, inilah saatnya kita mulai berbenah. Jangan biarkan kebiasaan untuk menyimpan dan menumpuk barang terus terjadi. Karena barang yang terus menerus kita simpan tanpa digunakan lama kelamaan akan rusak, padahal bisa saja barang tersebut dapat lebih berguna di tempat orang lain. Yuk, coba praktikkan metode decluttering. Decluttering telah terbukti bukan sekedar mengurangi penumpukan barang, decluttering adalah proses menuju proses dan diri yang lebih baru. Mari kita buktikan Mom!

Referensi :
Suratini, Muhajjah. 2018. Decluttering Rumah: Rumah Lebih Menyenangkan Tanpa Barang Berlebihan. Jogjakarta : Trans Idea Publishing.

Sumber gambar :
https://www.topcleaninggb.co.uk/blog/health-effects-cluterred-home/
http://media.rtp.pt/praca/videos/dificuldade-organizar-roupa-nos-ajudamos/
http://kaylasgood.blogspot.com/2016/03/baby-clothes-everywhere.html
https://earlybirdbooks.com/do-you-have-a-book-hoarding-problem
http://leocoelho.com/2016/06/mudancas/

Leave a Reply